2SO2G
Judulnya aneh ya?hhaha.. Sebenernya ni fanfic udah ada lama ditulis di FB (yang sampai sekarang pun belum ber-ending).
Sengaja ditulis lagi di blog aja. ntar kalo banyak yang kasih comment biar langsung segera di upload lanjutannya langsung di blog ini~
2SO2G dibikin berdua sama sobatku. Jadi silahkan disimak dan jangan lupa kasih comment ya. Gomapseumnida~
Oya, chara-nya ambil dari artis korea-jepang.hhehe…
Shirota Yuu as Yuu
Song Ji Hyo as Hinata
Ai Kago as Fuyuno
Uruha The Gazette as Uruha
Hyde Laruku as Hyde
Park Si Yeon as Julia
Aoi as Aoi
PART 1
Tokyo, malam itu.
“Hinata, di belakangmu!!!!”, teriak Yuu seraya menembakkan pistolnya ke arah siluman berwujud kucing di hadapannya. Hinata mengernyitkan kening, seketika dia melepaskan peluru ke arah siluman di belakangnya tanpa menoleh sedikitpun.
Namun mendadak muncul beberapa lainnya dan Hinata nyaris tak berkutik karena terlalu kaget. Matanya terbelalak.
“Hinataaaa!!!!”, teriak Yuu panik.
BLAAAARRR!!!
Pupil mata Hinata membesar. Mulutnya terbuka. Makhluk-makhluk itu hancur lebur di hadapannya.
“Ucapan terimakasih???”, seru sebuah suara.
Hinata menoleh ke arahnya. Lantas dia mendengus dan memutar bola matanya.
“Whatsoever…”, ucapnya datar.
“Thanks, Uru!!!”, sahut Yuu ceria seraya mendarat di jalan dengan anggun. Uruha menyeringai seraya menyampirkan busur panahnya di lengannya. Mereka bertiga berkumpul di sana, memandang ke arah sekeliling mereka.
“Aku sudah tidak merasakan tanda-tanda makhluk-makhluk itu lagi”, gumam Yuu.
Uruha mengangguk lega.
“Another tough day…”, gumamnya seraya menghela napas dan memandang ujung jalan dengan tatapan lelah.
“Tapi, kita masih tetap harus waspada”, sahut Hinata.
Yuu dan Uruha mengangguk setuju.
“TEMAN-TEMAAAAANNNNN!!!!!”
Teriak sebuah suara cewek.
Ketiga orang itu menoleh ke arahnya.
Fuyuno.
Yuu mendengus. Hinata memutar bola mata dan berkacak pinggang, menunjukkan wajah kesal. Sementara Uruha tersenyum lembut padanya.
Gadis itu membungkukkan tubuh dan memegangi lututnya. Napasnya tersengal karena berlari. Lantas dia menegakkan tubuhnya kembali setelah napasnya jauh lebih tenang.
Menyeringai pada teman-temannya.
“Aksi yang hebat!!! Err…seperti biasa…”, ucapnya dengan nada ceria.
“Aksi hebat kepalamu!!!! Darimana saja kau???”, pekik Hinata dengan sebelah tangan menunjuk ke arahnya, membuat Fuyuno mengkeret.
“Errr..Aku…aku…anu…Aku tadi sebenarnya bermaksud menolong, tapi mendadak ibuku menelepon dan mengatakan kalau kucing peliharaanku sedang sekarat…Jadi…”
“LIAR!!!!”, pekik Hinata dan Yuu seraya bersamaan membuat Fuyuno speechless.
“Sudah..sudah..Teman-teman…”, lerai Uruha dengan cengiran pasrah.
Mendadak handphone Hinata berdering. Semua perhatian beralih padanya.
Hinata mengangkat handphonenya.
Untuk sejenak Fuyuno terbebas dari maut.
“Ya, Hyde-san, ada apa?”, seru Hinata. Semua diam dan menatap Hinata dengan serius hingga dia selesai bicara dengan orang bernama Hyde itu.
“Baiklah, kami segera ke sana”, Hinata menutup handphonenya.
Dia memandang ketiga kawannya.
“Misi selanjutnya”.
…
Gaea International University.
Pagi itu,
“Hoaaahhemmm…”, Fuyuno menguap lebar-lebar dan meregangkan tubuhnya.
“Ngantuuuuuuukkkk…”, keluhnya seraya mengucek-ucek mata. Hinata mengerutkan kening.
“Memangnya ngapain saja kau tadi malam???”, tanya Hinata. Giliran Fuyuno yang mengerutkan kening.
“Mengemban tugas sehari-hari…Maksudku, membasmi siluman, hantu, arwah penasaran, dan entah semacamnya. Dan kurasa aku melakukannya bersamamu dan yang lainnya…”, seloroh Fuyuno. Hinata memutar bola matanya.
“Oh, entah kenapa aku tidak melihatmu saat itu. Aku jadi bertanya-tanya…Eksistensimu sebagai anggota 2SO2G itu bagaimana, sih”, balas Hinata dengan nada sarkastik.
Fuyuno mengerutkan kening, bibirnya mengerucut.
“Hinata-chaaaannn…!!!”
“Pagi, Hinata-san, Fuyuno-chan…”, sapa sebuah suara.
Kontan Hinata dan Fuyuno menoleh ke arahnya.
“Pagi, Uruha-kun”, jawab Hinata dan Fuyuno bersamaan.
“Yo”, sahut sebuah suara yang lain. Hinata memutar bola mata.
“Tak bisakah kau mengucapkan kata yang lebih sopan daripada itu???”, cela Hinata.
Shirota Yuu mengerutkan kening.
“Sejak kapan kau begitu peduli pada caraku bicara???”, gerutu Yuu.
“Oh, bagus sekali…Jadi selama ini aku bicara tidak ada yang masuk ke telingamu rupanya. Tck…”, omel Hinata.
“Memangnya kenapa aku harus peduli?”, balas Yuu santai seraya ngeloyor pergi.
“APA KATAMUUUUUU????”, pekik Hinata shock.
“Hoi, kembali kau, Shirota Yuu!!!!”, pekik Hinata seraya mengejar cowok itu.
Uruha dan Fuyuno hanya diam melihat mereka.
Lantas Uruha menghela napas dan geleng-geleng kepala.
“Ya ampun…Kapan mereka akhirnya akan sadar???”, desahnya. Fuyuno menyeringai.
Uruha menoleh ke arah Fuyuno dan menatapnya dengan tatapan lembut.
“Fuyuno-chan”, panggil Uruha. Fuyuno menengadahkan kepalanya ke arah cowok yang jauh lebih tinggi darinya itu dan menatapnya dengan mata membesar.
“Ya?”
Uruha tersenyum.
“Bagaimana harimu pagi ini?”, tanya Uruha kalem.
Fuyuno mengerutkan kening, tak mengerti.
“Eh?”
Uruha terkekeh. Dia mengusap-usap kepala Fuyuno.
“Ah, sudahlah, lupakan. Ayo, masuk, sebentar lagi kuliah jam pertama dimulai”, ucap Uruha kalem seraya mulai melangkah meninggalkan Fuyuno.
Mata Fuyuno mengawasi punggung Uruha yang makin mejauh.
“Kadang-kadang aku tak mengerti Uruha-kun. Cowok yang misterius. Hmm…”, gumam Fuyuno seraya berakting seolah sedang berpikir keras dengan tangan memegangi dagunya.
“Oi, Fuyuno-chan!!! Kau sedang apa? Ayo, cepat!”, seru Uruha membuyarkan lamunan Fuyuno.
“Oh, iya! Maaf!”, sahut Fuyuno seraya berlari kecil menuju ke arah tempat Uruha berdiri menunggunya.
Dan…
Pagi itu untuk sementara dilewati dengan damai olah para anggota 2SO2G.
——— ## ———
-Tower Bridge, London-
-England-
-22.30 p.m.-
“HACHIII!!!!!” Seorang cewek imut dengan ikatan rambut ekor kudanya yang khas menggigil kedinginan.
Seorang cowok di sebelahnya dengan sigap memberikan jaketnya pada gadis itu.
“Terima kasih Uruha-kun!” senyumnya manis.
“Sudah kubilang bawa jaket kenapa kamu masih ngotot nggak mau bawa tadi?” sahut gadis lain yang sedang berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah datar.
“Aku kan memang tidak mau bawa jaket Hinata-chan. Udara malam seperti ini sangat menyehatkan!
Lagian inikan di London!!!” ujarnya bersemangat dengan mata berbinar-binar.
Cewek yang dipanggilnya Hinata itu hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.
“Fuyuno!! Kau sudah terlalu lama hidup di kutub ha?!!sejak kapan angin malam bisa jadi menyehatkan!” seseorang menjitak kepalanya dengan gemas.
“Yuu-kun!!” Fuyuno langsung cemberut. Yuu memang suka sekali menggoda cewek imut yang satu ini.
Mereka berempat sedang berjalan-jalan di salah satu ikon kota London, Tower Bridge. semakin malam keadaan semakin lengang tapi kota ini tetap tidak pernah mati. Masih ada beberapa orang yang terlihat juga sedang menikmati suasana malam di Inggris yang sangat indah. Bangunan jembatan yang megah dengan tower yang berbentuk seperti kastil di kedua sisinya terlihat menawan, khas bangunan Inggris. Lampu-lampu berwarna perak mendominasi di sekitar jembatan. Sinarnya memantul lembut di sungai Thames. Beberapa perahu kecil terlihat lewat di sepanjang sungai yang tenang itu.
“Hei Uruha, kenapa tiba-tiba president menyuruh kita pergi ke tempat seperti ini? Apa di tempat seperti ini juga ada Black Sorrow…” Yuu berjalan santai di samping Uruha.
Mereka berempat dikirim ke London selama 2 minggu untuk kepentingan tugas 2SO2G. Tidak heran kalau mereka jadi sering berpindah-pindah sekolah hanya untuk sementara waktu.
“Aku sendiri juga tidak begitu mengerti. Kita lihat saja nanti…” sahut Uruha pelan. mereka masih menikmati pemandangan malam yang sangat indah dan berjalan2 hingga ke taman di pinggir sungai. banyak bangku-bangku panjang menghadap sungai dengan lampu2 aksen khas London yang cantik. terlihat sangat menawan.
“Hua!! Kawai!!! Hinata-chan, liat anak anjing itu!” Fuyuno menunjuk anak anjing yang sedang meringkuk di sudut taman tak jauh dari tempat mereka sekarang berada.
Fuyuno menarik lengan Hinata mendekati anjing tersebut.
”Hei hei hei! Aku bisa jalan sendiri Fuyuno!!”
”Sudah ayo cepat Hinata-chan!!”
Tidak banyak orang berada di sana. Hawa dingin juga semakin menusuk hingga tulang. Fuyuno yang berlari kecil mendahului yang lain langsung ditarik oleh Yuu.
”Jangan mendekat! Mereka ada di sini!” Yuu sudah mulai waspada melihat sekitar. Anak anjing yang sebelumnya meringkuk itu, kini tiba-tiba matanya berkilat tajam. Dia mendesis kemudian menyalak buas ke arah mereka berempat.
”Sial! Masih banyak orang di sini. Kalau kita beraksi sekarang, mereka bisa tau!” desis Yuu jengkel.
”Anggap saja tidak ada siapa-siapa di sini!” Hinata dengan santai berjalan mendekat sambil mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya tepat ke arah anak anjing itu. Begitu juga dengan Uruha yang langsung maju mengikuti Hinata. Busur dan panah andalannya sudah siap beraksi.
“Jangan gegabah bodoh!” teriak Yuu pada mereka.
Sebelum Hinata menarik pelatuknya, dia seperti menunggu sesuatu. Dan tepat sekali, dalam semak-semak terlihat banyak bayangan yang sedang mengintai mereka. Menunggu saat yang tepat untuk menyerang mereka berempat.
”Jebakan kuno.” desis Hinata yang sudah melepaskan satu pelurunya pada salah satu bayangan yang menyerang keluar dari samping kirinya. Sedangkan bayangan lain keluar dari sisi kanan dan satu panah tertancap di dadanya.
Jumlah mereka semakin banyak. Yuu ikut bergabung bersama Hinata dan Uruha. Satu tebasan pedang Yuu ikut membunuh beberapa kawanan Black Sorrow lainnya.
”AAARRGGGHHH!!!!!”
Mereka bertiga menoleh ke asal suara. Salah seorang Black Sorrow sedang menyandera seorang wanita. Sedangkan Fuyuno berdiri tidak jauh dari mereka.
”Fuyuno!” Yuu berteriak tapi Fuyuno bukannya menjauh, tapi dia malah mendekat. Dia terlihat cukup takut tapi kakinya serasa menyuruhnya untuk terus maju ke arah Black Sorrow itu.
Hinata dan Yuu bergegas menuju mereka tapi Uruha menghadangnya.
”Biarkan saja!” ucapnya tegas.
”Kau sudah gila Uruha! Wanita itu dalam bahaya!” sahut Yuu kesal.
Tidak berbeda dengan Yuu, Hinata langsung mengarahkan pistolnya ke arah Black Sorrow.
”Kalau kau melakukan itu, tidak hanya wanita itu saja yang mati tapi juga Fuyuno!” ucapan Uruha langsung membuat Hinata tersentak. Dia hanya bisa berdiam diri. Hinata kemudian memejamkan matanya, berkonsentrasi mencoba membaca pikiran Fuyuno.
Wajah pucat dari wanita di hadapannya membuat Fuyuno ingin melakukan hal itu. Dia tidak ingin melihat orang lain harus mati di hadapannya lagi. Black sorrow itu menyeringai senang.
Aku harus melakukannya. Aku bisa melakukannya. Selama ini aku selalu meyulitkan mereka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ingin membuktikan kalau aku juga bisa melakukannya.
Aku tidak ingin wanita ini mati! Seperti waktu itu… kali ini aku akan melakukannya dengan benar.
Okasan… bantu aku melakukannya!!
Fuyuno mencoba menatap wajah yang menyeringai itu dengan tatapan tajam. Tiba-tiba saja, black sorrow itu seperti orang yang aneh. Dia mengendurkan dekapannya pada wanita itu. Dia mundur teratur. Matanya berkilat aneh dan dia memekik pelan. Lama-lama dia seperti orang yang disiksa, dia memegang lehernya, kemudian kepalanya, menjerit aneh, pupil matanya membesar dan dia merobohkan diri. Dia meringkuk kesakitan hingga tiba-tiba dia terkulai lemas. Tak ada gerakan apapun dari tubuhnya.
Fuyuno berdiri gemetaran. Sementara dia melihat pemandangan di hadapannya seperti melihat sebuah mimpi buruk.
Wanita di sampingnya dan beberapa warga sipil lain yang melihat kejadian malam ini terperangah.
“Thank you…” ujar wanita itu dengan suara parau dan serak. Dia masih terlihat ketakutan. Fuyuno memaksakan senyum ke arah wanita itu padahal dia sendiri juga sebenarnya ketakutan setengah mati. Tapi ada perasaan lega dalam hatinya.
Tiba-tiba Hinata langsung ambruk di tempat. Dia sudah tidak punya tenaga lagi bahkan untuk berdiri.
“Hinata!!” Yuu langsung menolongnya. Fuyuno pun menoleh dan berlari ke arah mereka bertiga.
“Hinata-chan!! Kau tidak apa-apa??!” ujad Fuyuno cemas. Tangannya kebas oleh dinginnya malam. Dia menggenggam tangan Hinata yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Sayup-sayup suara sirine polisi terdengar di kejauhan.
“Hmm… Yuu sepertinya warga sipil ini ada yang menelepon polisi. Kita harus bergegas pergi dari sini.
Kau bisa membawa Hinata?” Uruha memandang Yuu. Uruha terlihat khawatir dengan keadaan Hinata.
“Aku bisa membawanya.” Yuu menggendong Hinata menuju sebuah mobil yang bersiap akan pergi.
Fuyuno pun mengekor di belakang Yuu.
Sekelebat bayangan di belakang mereka menarik perhatian Uruha. Uruha menoleh, tersirat ekpresi terkejut dari wajah Uruha. Bayangan itupun segera pergi hilang dalam kegelapan malam.
”Uruha-kun?” Fuyuno berteriak tak jauh dari Uruha.
”Iya, aku segera ke sana.” sahut Uruha.
Mobil blazer hitam pun meluncur pergi dari tempat itu.
——— ## ———
Tercium bau menyengat. Bau darah. Dalam kegelapan dia melihat seseorang yang sudah tidak asing lagi. Memandang dengan tatapan nanar, meminta pertolongan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Dia mulai membuka matanya.
Ruangan berwarna cream cerah terlihat kabur dalam pandangannya.
Kepalanya masih berdenyut-denyut tidak karuan. Semuanya mati rasa, dia tidak merasakan apapun. Pandangannya pun semakin jelas. Ruangan yang sudah tidak asing lagi baginya. Ini adalah kamar apartemen tempat dia tinggal selama di London dengan Fuyuno. Sedangkan kamar Uruha dan Yuu ada di sebelah. Diapun mencoba bangun dari tempat tidur. Dia terduduk, berusaha tidak mempedulikan kepalanya yang masih terasa pusing.
”Kau sudah sadar?”
Dia menoleh ke arah seorang cowok yang sedang duduk di sofa di samping tempat tidurnya. Dia menaruh laptop di pangkuannya ke atas meja. Dia kelihatan letih tapi sepertinya dia tetap terjaga selama beberapa waktu.
”Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah…. mana Uruha dan Fuyuno?”
”Mereka sedang membeli makanan.”
Hinata melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Sebelum dia sempat beranjak, cowok itu sudah bicara, ”jangan beranjak dulu! Kau butuh istirahat!”
”Aku bilang aku tidak apa-apa, Yuu!” sahut Hinata sekenanya.
”Kau menggunakan kekuatanmu lagi kan.” Yuu mengambil cangkir dari meja dan menghirup kopi yang tinggal separuh.
”Bukan urusanmu.” jawab Hinata singkat. Dia tidak mempedulikan larangan Yuu, malah dia memaksakan tubuhnya yang masih lemas itu untuk berdiri dan duduk di samping Yuu.
Dia langsung menatap laptop dihadapannya dan mulai mengakses situs, tapi belum apa-apa Yuu langsung menutup laptop itu. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata yang berada di sudut sofa. Dia semakin menyudutkan Hinata.
”Sekarang menjadi urusanku!” ujarnya tajam.
”Sejak kapan kau mencampuri urusanku?” tantang Hinata sewot.
”Jangan gunakan kekuatan itu lagi!” sahutnya tanpa mempedulikan pertanyaan Hinata.
Semakin dilarang Hinata semakin bersikeras. Dia sendiri sebenarnya tidak begitu suka ketika harus membaca pikiran orang lain. Dia merasa, hanya itu jalan satu-satunya dia bisa memahami perasaan orang lain. Selama ini dia selalu dijauhi oleh teman-temannya. Di sekolah, tidak ada yang mau berteman dengannya. Dia sedingin es, ucapannya sangat sinis dan kasar. Dia sendiri menyadari hal itu.
Itulah mengapa dia lebih senang menjaga jarak dengan orang lain. Itu lebih baik baginya.
”Aku tidak butuh nasehatmu!” jawab Hinata sarkatis.
Sebelum Yuu sempat menjawab terdengar pintu depan terbuka.
”Kami kembali!” suara khas Fuyuno terdengar bersemangat. Hinata pun bersyukur, dia tidak harus meneruskan perdebatan ini. Dia beranjak dari sofa dan berjalan menuju dapur. Kepalanya sudah sangat pusing dan pembicaraan dengan Yuu tadi semakin membuat kepalanya serasa mau pecah. Dia mengambil soft drink dan menaruhnya di kepalanya.
”Hinata-chan! Kau sudah sadar! Syukurlah!!” Fuyuno menaruh barang belanjaan di meja dapur.
Hinata hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
”Kalau begitu kau istirahat saja biar aku yang memasak untuk kalian!”
Hinata bersandar di pinggir meja dapur, ”Memangnya kau mau memasak apa untuk kita?”
”Ummm…. ” Fuyuno terlihat berpikir keras.
”Bagaimana kalau omelet!”
”Tadi pagi kau sudah bikin omelet.” jawab Hinata cuek.
”Telur mata sapi?”
“Kemarin kau sudah memasak itu. Amnesia?” sindir Hinata.
”Eee….” Fuyuno kehabisan ide.
”Tiga hari berturut-turut bukannya kau sudah memasak omelet!” Hinata mendengus kesal tapi juga sedikit geli.
Fuyuno langsung shock, ”Heee!!! Benarkah?!”
Hinata tertawa kecil melihat tingkah Fuyuno. Setidaknya ada yang mau berteman dengan seorang Hinata…
Sementara di ruang depan, Uruha sedang mengobrol dengan Yuu.
”Ada kabar apa dari presiden?” Uruha menuang secangkir kopi dan duduk di sebelah Yuu.
”Nothing. Hanya ada telpon dari Hyde-san. Dia bilang kita harus bergerak cepat karena yang berada di taman tadi malam bukan target utama kita.”
”Hmm… begitu. Kita sudah seminggu di sini, waktu kita tinggal seminggu lagi.”
”Yeah…. tapi London bukan kota yang kecil. Bagaimana kita bisa tau keberadaan mereka setiap saat!” Yuu menyandarkan tubuhnya.
”Itu kita pikirkan nanti. Hei, kau istirahat saja. Dari tadi malam kau bersikeras untuk menjaga Hinata. Dia sudah sadar kan sekarang. Kau cepat istirahat!” Uruha menghirup kopinya dan mulai terlihat sibuk dengan laptop Yuu.
”Aku tidak selera tidur!” sahut Yuu sekenanya. Padahal dia sebenarnya sudah capek sekali. Walaupun pikirannya juga sama lelahnya tapi dia terlalu sibuk mencerna perkataan Hinata. Tidak biasanya dia berkata seperti itu walaupun setiap hari mereka selalu berdebat tapi ucapannya barusan dan ekspresinya benar-benar berbeda…
——— ## ———
-Britain College, London-
-Design art class-
-10 a.m.-
”Hmm… ” Fuyuno terlihat serius memperhatikan ucapan dosen yang sedang menerangkan design historical.
Hinata yang duduk di sebelahnya bertopang dagu sambil mencoret-coret note di hadapannya. Dia sudah membaca mengenai design historical tadi malam. Jadi dia hanya mencatat hal-hal yang penting saja dari keterangan dosen.
Tidak jauh berbeda dengan cowok yang duduk di hadapannya. Dia malah tertidur dari jam pertama masuk kuliah. Siapa lagi kalau bukan Yuu si tukang molor. Sedangkan cowok berkacamata di sampingnya, seperti biasa terlihat santai tapi dia bisa mencerna semua keterangan dari dosen. Semua juga sudah tau kalau sebenarnya Uruha pasti sudah mempelajari mata kuliah ini jauh hari sebelumnya. Orang jenius macam dia memang seperti malaikat penolong bagi Hinata, Fuyuno dan Yuu yang bisa dibilang lebih suka SKS-Sistem Kebut Semalam dalam mengerjakan tugas.
”Hei! Serius amat!” Hinata menyenggol kening Fuyuno dengan pensil.
”Hmm… ” Fuyuno mengerucutkan mulutnya sambil mengerutkan keningnya.
”Fuyuno!” Hinata sedikit mengeraskan volumenya.
Fuyuno menoleh masih dengan ekspresi yang sama.
”Hinata-chan… apa di sini tidak ada dosen yang menerangkan dengan bahasa jepang?” tanyanya polos.
Hinata mengangkat salah satu alisnya. ”What’s that mean?”
”Ini sudah hampir dua minggu dan selama ini tidak ada dosen yang menerangkan dengan bahasa jepang!
Aku kan butuh tenaga dan pemikiran ekstra untuk mencerna materi dan juga bahasanya! Aku jadi harus kerja dua kali!”
”Fuyuno… apa kau tahu kita berada dimana?”
”London!”
“Berarti kita harus menggunakan bahasa Inggris! Baka!” Hinata menjitak kepala Fuyuno.
“Aduh sakit!!” Fuyuno kembali cemberut.
“Tau begitu aku tidak tanya! Kapan penyakitmu ini akan sembuh ha?”
”He? Penyakit?? Aku tidak sakit!” Fuyuno memegang dahinya, mengecek suhu tubuhnya.
Itu semakin membuat Hinata jengah.
”Hei Hinata-chan!”
”Hngg…”
”Apa kau bertengkar dengan Yuu-kun?”
Hinata diam sejenak. Wajahnya masih tak berekspresi.
”Tidak.”
”Tapi aku merasa aneh sekali, kalian jarang bicara sejak…”
”Tidak ada apa-apa, kau tenang saja.” potong Hinata. Dia tidak mau membahas sesuatu yang baginya tidak terlalu penting untuk dibahas.
Sejak terakhir dia berbicara malam itu dengan Yuu, mereka berdua sama sekali tidak seperti biasanya. Beberapa hari terakhir mereka lebih banyak menghindar dan diam. Tidak seperti biasanya yang berisi dengan perdebatan sengit. Bagi Hinata itu jauh lebih baik.
Fuyuno tersenyum, dia memegang tangan Hinata.
”Hinata-chan! Kalau ada yang ingin kau ceritakan katakan saja! Itu akan membuatmu jauh lebih baik!”
”Terima kasih! Tapi tidak ada yang perlu diceritakan Fuyuno!”
”Baiklah! Lain kali kalau ada apa-apa kau harus cerita padaku!” ujar Fuyuno tulus.
”Iya iya! Kau tenang saja! Bawel!”
”Hehe…” Fuyuno membuat tanda peace dengan kedua tangannya.
——— ## ———
-Clock Tower, London-
Seorang cowok duduk sambil menghisap rokok. Suasana malam itu cukup lengang. Dia memandang serangga yang sedang mencari kehangatan di sekitar lampu-lampu di pinggir jalan. Berharap bisa bertahan dari dinginnya malam. Malam sudah semakin larut. Sudah berjam-jam dia menghabiskan waktu tanpa tujuan.
Tak lama kemudian seseorang datang menghampirinya. Berdiri bersandar di bawah tiang lampu.
“Sedang apa kau di tempat seperti ini.” Ujarnya sambil mengambil kacamatanya yang berembun dan membersihkannya dengan saputangan.
Cowok yang duduk dihadapannya tersenyum.
“Hmm… tidak kusangka kau sendiri ada sini. Sudah lama ya kita tidak bertemu, Uruha.” dia beranjak dari bangku dan membuang puntung rokoknya.
Uruha hanya diam saja. Dia hanya menatap cowok di hadapannya itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Cowok itu berjalan mendekati Uruha dan berbisik di telinganya.
”Apa kau sudah menemukan buruanmu?”
Uruha hanya tersenyum tipis.
”Aoi, kau tetap tidak berubah.”
Cowok yang dipanggil Aoi itu tertawa. Kulitnya yang berwarna putih semakin terlihat pucat oleh sinar lampu jalan.
”Kau juga tidak berubah Uruha.” sahutnya pelan.
Sejenak mereka saling diam satu sama lain. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
”Apa yang kau harapkan dari organisasi itu?” Aoi menatap langit yang gelap. Tidak ada satu bintang pun di sana.
”Kau sendiri apa yang kau harapkan dariku?”
Aoi merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan satu batang rokok, seakan sudah menjadi kebiasaan, Uruha mengeluarkan lighter dari saku celananya dan menyulut rokok itu dengan lighternya.
”Kau hanya melakukan hal yang sia-sia Uruha.”
”Tidak bagiku.”
Aoi tertawa mengejek. ”Apa kini kau tertarik untuk memburuku?”
”Hmm… tidak ada alasan bagiku untuk memburumu.”
Aoi menatap Uruha dengan pandangan tajam. Dia berjalan melewati Uruha sambil berbicara, ”Akan ada alasan bagimu untuk memburuku… Ja-ne!”
Dia berlalu meninggalkan Uruha seorang diri. Terdengar dering ponsel dari saku jaketnya. Dia mengambilnya dan mengangkat telpon itu.
”Halo.”
”Uruha-kun! Kau dimana? Makan malam sudah siap! Semua sudah berkumpul menunggumu!” sahut suara di seberang.
”Baiklah! Aku kesana Fuyuno.”
Pip. Dia menutup ponsel dan berlalu dari tempat itu. Berharap apa yang ada dalam pikirannya tidak akan pernah terjadi.
——— ## ———
Hinata menutup bukunya dan membereskan buku-buku lainnya yang berserakan di meja.
”Fuyuno, Uruha, aku duluan ya! Aku ingin mencari udara segar!”
”Baiklah!” sahut Uruha yang terlihat sedang membaca novel sastra klasik.
Sedangkan cewek di sebelahnya yang masih terlihat menekuri beberapa buku tebal seukuran kamus hanya mengangguk.
”Aku ada di atap!” Hinata menepuk pundak Fuyuno dan berlalu keluar dari perpustakaan.
Hari ini tidak ada mata kuliah. Tapi tugas membuat paper yang harus segera diselesaikan cukup memeras otak. Bahkan tadi pagi dia belum sempat sarapan. Walaupun Fuyuno berbaik hati akan membuatkan omelet, tapi dia menolak mentah-mentah. Lebih baik dia tidak makan daripada lama-lama phobia melihat omelet yang dimasak Fuyuno tujuh hari berturut-turut. Hari ini suasana hatinya benar-benar sedang buruk total.
Akhirnya Hinata menuju atap menjauh dari keramaian kampus siang ini. Suasana siang ini sedikit berawan jadi dia akan lebih betah berlama-lama di sana.
Benar saja, tempat favoritnya ini terlihat sepi. Tidak ada siapapun di sana. Seperti yang dia harapkan. Dia duduk sambil menatap awan mendung. Semilir angin menerpa rambut panjangnya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Itu membuatnya lebih baik.
“Hei!”
Hinata menoleh ke asal suara dan tiba-tiba sekaleng soft drink melayang dan dengan sigap dia menangkapnya.
Yuu berjalan menghampirinya. Dengan memakai kemeja kotak-kotak biru dengan lengan yang digulung hingga siku membuatnya sedikit terlihat berbeda di mata Hinata. Dia duduk di sebelah Hinata yang masih terdiam melihat kedatangan makhluk yang paling tidak ingin dilihatnya untuk saat ini.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Yuu membuka minumannya dan meneguk isinya.
”Sedang apa kau di sini?” Hinata balas bertanya dengan sedikit sewot.
”Memangnya kenapa?” sahut Yuu cuek.
”Jangan membalas pertanyaan dengan pertanyaan!” Hinata mulai tidak sabaran.
”Kau yang memulai!”
Hinata mendengus kesal, ”Dengar! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu! Lebih baik kau pergi dari sini!”
Yuu masih tidak bergeming. Dia masih dengan santainya menikmati minumannya.
”Yuu kau dengar kata-kata… ”
”Kenapa kau tidak pernah jujur Hinata?” Yuu memandang Hinata dengan tatapan tajam. Ucapannya sangat tegas dan kali ini dia benar-benar sedang serius.
”Aku tidak mengerti maksudmu!” Hinata semakin jengah dengan pembicaraan ini.
”Kau terlalu naif!”
”Dengar! Aku tidak butuh nasehat apapun darimu dan aku tidak butuh bantuanmu!”
Entah kenapa pernyataan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Hinata mengutuk dirinya yang suka sekali berbicara seenaknya.
BRAAKK!!
Pintu terbuka dengan keras. Fuyuno dan Uruha terlihat berlari menghampiri mereka.
”Yuu-kun! Hinata-chan! Gawat!!” Fuyuno membungkuk, menopang tubuhnya dengan kedua tangannya di lutut, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
”Ada apa?” Hinata dan Yuu beranjak.
”Ada keributan di lantai dua. Black sorrow menyerang beberapa anak!” sahut Uruha.
“Sial! Aku tidak menyadari keberadaan mereka!” Yuu juga bersiap dengan segala kemungkinan.
”Di sebelah mana Uruha?”
”Ada di lorong sebelah utara. Dekat ruang kesehatan. Sedangkan yang lain ada di lorong sebelah selatan dekat laboratorium!”
Tanpa basa-basi Hinata berlari mendahului yang lainnya.
“Hinata-chan!! Tunggu!” Fuyuno berteriak di belakang.
“Aku akan menyusulnya! Kita berpencar!” sahut Yuu pada Fuyuno dan Uruha.
“Yuu-kun!”
Yuu menoleh ke arah Fuyuno.
“Aku mohon tolong jaga Hinata! Entah kenapa aku merasa hal yang buruk akan terjadi!” wajah
Fuyuno terlihat cemas dan khawatir.
”Aku akan menjaganya dengan nyawaku!” ujar Yuu sambil menepuk kepala Fuyuno.
Itu membuat Fuyuno sedikit lega tapi kenapa daritadi hatinya memang resah. Yuu pun bergegas menyusul Hinata.
”Fuyuno kau tidak apa-apa?” Uruha mengelus kepala Fuyuno.
Dia tidak ingin membuat Uruha juga ikut khawatir. Diapun mengangguk sambil tersenyum. ”Betsuni Uruha-kun!”
Mereka pun bergegas memulai aksi di siang itu.
Hinata sendiri berlari sepanjang lorong dan berbelok ke utara. Dia menuju ruang kesehatan yang berada di ujung lorong. Tampak beberapa meja dan vas hancur berserakan di lantai. Beberapa ruangan lain juga tampaknya sudah porak poranda. Banyak mahasiswa yang berlari kalang kabut. Keadaan sudah semakin tidak terkontrol. Bisa-bisanya Black Sorrow muncul di kampus seperti ini. Di ujung lorong suasana semakin sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Kemungkinan besar Black Sorrow sudah tidak ada di sana.
Yuu terlihat sudah menyusul langkah Hinata.
”Dimana?” tanya Hinata pada Yuu.
”Sebelah sini!” dengan yakin Yuu berlari mendahului Hinata menuju ruang kesehatan.
Keadaan ruangan itu tidak berantakan seperti ruangan-ruangan lainnya. Tirai-tirai putih menutupi ranjang-ranjang yang juga didonimasi warna putih tertata dengan rapi. Vas-vas bunga dengan bunga-bunga segar tertata cantik di atas meja di setiap sisi ranjang. Lemari berisi obat-obatan terlihat di salah satu sisi ruangan. Tidak ada seorangpun di sana. Hanya terlihat seorang anak kecil sedang meringkuk di sudut ruangan. Dia seperti orang yang kesakitan.
Yuu mendekati gadis kecil itu.
”Yuu berhenti!” Hinata berjalan menghampiri Yuu
”Ada apa?”
”Kau yakin mereka ada di sini?”
“Memangnya kau pikir dia ini siapa?!” sahut Yuu sambil menunjuk gadis kecil itu.
“Onee-san…” rintihnya pelan
Hinata terdiam. Dia malah mendekatinya dan mengusap kepalanya.
”Gadis kecil… kau tidak apa-apa?”
”Hinata jangan terlalu dekat dengannya! Bisa jadi dia…”
”Dia hanya anak kecil Yuu!” Hinata memandang Yuu.
Yuu mendengus kesal. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia juga tidak tahu harus bagaimana. Di tempat seperti ini kenapa ada anak kecil. Dia tidak begitu ambil pusing. Lagipula hawa keberadaan mereka memudar. Kemungkinan mereka sudah tidak berada di tempat ini.
Sementara di koridor sebelah selatan tidak jauh berbeda dengan koridor sebelah utara. Hampir seluruh ruangan porak poranda.
”Fuyuno di belakangmu!” Fuyuno menoleh dan seketika itu juga panah melesat melewatinya menembus kepala salah satu Black sorrow.
”Arigatou Uruha-kun!” Fuyuno kembali mengarahkan pistolnya pada salah satu black sorrow yang muncul.
”AAARRRRGGHH!!” seorang Black Sorrow menarik kaki kanan Fuyuno hingga dia jatuh terjerembab. Dia menyeret Fuyuno keluar ruangan.
”Fuyuno!” Uruha tidak bisa berkutik, dia dikepung lima black sorrow.
BLAARR!! Fuyuno berhasil menghabisinya dengan sekali tembakan. Nafasnya tersengal-sengal. Dia masih terduduk lemas.
”Kenapa jumlah mereka banyak sekali!” Fuyuno mulai mengomel sambil menembaki beberapa di antara mereka yang terus bermunculan.
”Aku sendiri juga tidak tahu! Kita hanya bisa bertahan selama mungkin!” ujar Uruha tepat di belakang Fuyuno.
Mereka saling membelakangi dan tetap waspada.
”Semoga Yuu dan Hinata baik-baik saja!” Fuyuno menembak salah satu dari mereka hingga terjerembap menabrak meja di belakangnya.
Sedangkan di ruang kesehatan, gadis kecil itu masih merintih kesakitan.
“Onee-san… sakit…” tergurat rasa sakit di wajahnya yang pucat.
“Jangan takut… kakak akan mengantarmu pulang. Siapa namamu?”
“Onee-san… sakit sekali.” Rintihnya lagi.
“Yuu! Anak ini butuh bantuan!” Hinata menggendong gadis kecil itu.
“Aku akan memanggil seseorang.” Yuu bergegas keluar ruangan, tapi tiba-tiba dia kembali merasakan hawa keberadaan Black sorrow di ruangan ini. Ketika dia menuju ke pintu dia menoleh ke salah satu tirai yang tertiup angin. Seorang wanita tergeletak tak bernyawa di balik tirai itu. Jas putihnya penuh dengan bercak darah.
Jantung Yuu seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat. Tanpa pikir panjang Yuu berbalik ke belakang tapi dia terlambat.
Tangan gadis kecil yang melingkar di leher Hinata itu sudah melukai sebagian besar leher Hinata.
Darah segar menetes di tangan dan leher Hinata. Dia terbelalak shock dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya terdiam tanpa suara.
Sedangkan gadis kecil itu menyeringai lebar sambil tertawa puas. Sebuah simbol abstrak terlihat dari lengan kirinya. Simbol black sorrow yang menjadi target utama mereka.
”Onee-san… I wanna kill you…” matanya berkilat dan dari tangannya yang kecil sudah menjadi cakar yang siap membunuh dengan sekali tebas.
”HINATA!!!!”
——— ## ———
“Hinata-chan… daijoubu desuka?” Fuyuno dengan cemas memandang Hinata.
“Iya aku tidak apa-apa. Maaf sudah membuatmu khawatir.” jawabnya lirih sambil memaksakan senyum ke arah Fuyuno. Gadis di hadapannya pun sepertinya percaya dengan ucapannya. Setelah tahu apa yang terjadi pada Hinata, dia langsung menangis tidak henti-hentinya.
“Fiuh… yokatta ne…” matanya kembali berbinar. Bekas-bekas air mata masih terlihat di sudut matanya.
“Kau ini! Begitu saja menangis!” Hinata mengejek Fuyuno yang langsung ditanggapi dengan bantahan.
”Siapa yang menangis?! Aku tidak menangis!”
Hinata tersenyum lemah. Dia masih tidak punya kekuatan untuk meneruskan pembicaraan.
Mereka sedang berada di apartemen. Julia-san dengan cermat membalut luka di leher Hinata.
“Malam ini kalian beristirahat saja. Aku sudah mengirimkan satu helikopter pribadi untuk kalian. Besok pagi-pagi sekali, kalian akan langsung kembali ke Jepang. President menunggu kalian di markas.” Ujar wanita paruh baya tersebut kepada ketiga orang itu.
“Baiklah Julia-san. Terima kasih atas bantuannya.” sahut Uruha sopan.
”Terima kasih Julia-san.” Hinata memegang perban di lehernya. Dia merasa lebih baik.
“Yang penting kalian tidak apa-apa. Aku harus pergi.” Julia pun beranjak pergi dari ruangan itu. Dia adalah sekretaris pribadi president. Selama ini yang selalu berhubungan dengan mereka berempat adalah Hyde-san dan Julia-san.
Ketika dia keluar ruangan, dia berpapasan dengan Yuu. Mereka beradu pandang untuk beberapa detik. Yuu langsung menunduk hormat pada Julia. Julia pun membalas salam itu. Kemudian Yuu bergegas memasuki ruangan.
Bersamaan dengan itu, Fuyuno, Uruha dan Hinata menoleh dengan kedatangan Yuu. Dia berjalan memasuki ruangan dan berdiri bersandar di lemari tak jauh dari mereka.
Hinata langsung memalingkan wajahnya dari Yuu. Uruha pun akhirnya mendekati Fuyuno dan menepuk pundaknya pelan.
”Nah… Fuyuno, biarkan Hinata-chan istirahat. Bagaimana kalo kau temani aku makan! Aku sudah lapar sekali!” ujar Uruha lembut.
”Eh, betul-betul! Kalau begitu Hinata-chan, kamu harus cepat sembuh ya! Dan kita akan kembali memburu Black Sorrow!” sahut Fuyuno bersemangat.
“Baiklah. Sankyu Fuyuno-chan!”
“Ja-ne!”
Uruha pun menggandeng Fuyuno keluar ruangan meninggalkan Hinata yang masih duduk dan tetap diam. Dia hanya bisa menunduk, memandang dua tangannya yang terkepal, menumpu di atas pahanya. Ruangan itu terasa begitu dingin, kepala Hinata masih berdenyut-denyut nyeri, jantungnya juga butuh tenaga ekstra untuk bekerja, luka di lehernya bisa dikatakan cukup parah tapi tidak berakibat fatal.
Mungkin dia tidak bisa berada di ruangan ini kalau tidak ada yang menolongnya. Dan orang yang sudah menolongnya kini ada di ruangan itu.
Tanpa disadarinya, Yuu sudah berada di hadapannya, Hinata tidak tahu harus berbuat apa. Dia tetap tidak bergeming, hanya saja satu kata meluncur terucap dari mulutnya, “Gomenasai…”
Tapi tiba-tiba tangan yang hangat menyentuh perban di lehernya, diapun spontan mendongak. Baru kali ini dia melihat ekspresi itu, Yuu terlihat sangat khawatir.
”Kau tidak apa-apa?” ujarnya lirih.
Sinar mata Hinata meredup, dia kembali menunduk. Dia tidak bisa lebih lama lagi memandang wajah dihadapannya.
”Aku tidak apa-apa…” belum selesai Hinata bicara, Yuu langsung merengkuh Hinata ke dalam pelukannya.
”Syukurlah…”
-tiba-tiba memory di otak Yuu kembali bekerja, seperti potongan film yang diputar ulang dengan cepat. Kembali pada ingatan seorang laki-laki berumur 12 tahun. Wajahnya pias melihat sesuatu di hadapannya. Dia sangat ketakutan, tapi kakinya tidak bisa mengikuti apa yang diperintahkan otaknya.-
——— ## ———
-Markas besar 2S02G-
-Jepang-
Seorang cowok berjalan memasuki ruangan yang didominasi kaca di setiap sisi ruangan. Hanya ada satu set sofa dan satu set meja kerja yang terletak di depan ruangan. Dia menaruh file yang dipegangnya ke atas meja kerja dan dia menyandarkan dirinya di salah satu sisi meja.
“Apa-apaan ini?! Bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” ujarnya tegas dengan ekspresi wajah yang datar.
“Kenapa kalian bisa begitu ceroboh! banyak warga sipil yang melihat aksi kalian. belum lagi kalian sudah memporak-porandakan Inggris.”
“Ini kesalahanku.” ujar seorang cewek yang berdiri tidak jauh dari situ. Perban di lehernya membuatnya masih terlihat pucat. Hinata benar-benar merasa bersalah atas kecerobohan yang dia lakukan. Bahkan membuat nyawanya hampir melayang.
“Hyde-san, kami memang melakukan kesalahan tapi kami bisa mengatasinya.’ Ujar seorang cowok yang sedang duduk di sofa sambil bermain catur. Kebiasaan Uruha yang satu ini memang tidak bisa ditinggal.
“Benar kan Fuyuno?” lanjutnya sambil tersenyum ke arah cewek yang duduk di sebelahnya.
“Ngg… Benar benar!” sahut cewek tersebut dengan senyuman khasnya. Fuyuno masih terlihat cemas.
“Hyde-san, semua sudah bisa teratasi dengan baik. Aku minta maaf jika memang ada beberapa kecerobohan kami.” Sahut Yuu yang sedang duduk di sebelah Uruha. Dia menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya. Sedangkan kedua kakinya bertumpu di atas meja.
”Ini adalah kerja tim, jika kalian tidak bisa melaksanakan tugas ini dengan baik. Lebih baik kalian dibubarkan.”
”Kau jangan terlalu keras dengan mereka!” seorang cewek tinggi semampai berjalan memasuki ruangan. Dia terlihat anggun dengan kemeja putih berpita yang dipadankan dengan blazer hitam. Rok selutut membalut kaki jenjangnya. Sepatu high heels-nya berbunyi seirama dengan langkahnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di kursi tengah.
“Bagiku mereka sudah melaksanakan tugas mereka dengan baik. Lagipula target utama juga sudah kita dapatkan.” dia memandang Hyde-san dengan senyum khasnya. senyuman menyindir dan Hyde tau itu.
”Lagi-lagi kau membela mereka!” Hyde duduk di atas meja. Tidak ada nada marah dari suaranya.
”Hinata kau sudah baikan?” dia tidak mempedulikan pernyataan Hyde barusan.
”Iya Julia-san. Aku sudah lebih baik.” sahut Hinata.
”Hey Julia! Aku mengajakmu bicara! Kau malah tidak mempedulikanku.” Hyde mulai kesal dengan kebiasaan Julia.
Julia menoleh ke arah Hyde. Dengan wajah tak berdosa dia menyodorkan surat ke arah Hyde.
”President menunggumu di ruang utama. Biar aku yang mengurus mereka.” Julia tersenyum. Senyum penuh makna yang mengajak perang di antara dia dan Hyde. Sudah menjadi rahasia umum kalau mereka cukup tidak akur satu dengan lainnya. Tapi mereka bisa menempatkan diri. Ketika mereka harus dihadapkan pada tugas, mereka adalah pasangan mematikan.
——— ## ———











0 komentar:
Posting Komentar