Mianhe kalo PART 3 baru dikit. kalo ada waktu ntar lanjut lagi. Arigatou ne…
PART 3
Dunia seakan gelap. Tidak ada satupun cahaya. Hanya terdengar suara-suara yang sama. Bisikan-bisikan yang sama. Semuanya menuduh dia sebagai pembawa sial. Semuanya membicarakan tentang dia. Membicarakan tentang keburukannya. Membicarakan tentang kejelekannya. Membicarakan sesuatu yang hina tentang dirinya.
Flash Back
Tokyo – Japan
Spring Season
12.00 p.m.
“Onii-chan! Cotto matte ne!!” seorang gadis kecil dengan pita biru menghiasi rambutnya yang dikepang berlari dengan terburu-buru. Wajahnya yang mungil terlihat riang walaupun peluh membasahi wajahnya. Senyum mengembang manis di bibirnya.
“Ayo cepat!!” seorang bocah laki-laki seumuran dia namun terlihat lebih tua darinya memanggilnya tak jauh di depan. Dia melambai dengan penuh semangat. Dia lincah sekali, tidak tahan ingin segera melanjutkan langkahnya untuk kembali berlari. Dia memasuki hutan bambu yang semakin lebat. Namun jalan setapak masih terlihat walaupun sudah tidak sejelas tadi. Suara batang bambu yang saling bergesekan tertiup angin dan kicauan burung terdengar semakin jelas bersahut-sahutan.
Siang itu sedikit mendung. Tapi itu tidak mematahkan semangat kedua anak kecil ini menjelajah daerah yang sudah sering mereka jadikan sebagai areal bermain mereka. Di belakang rumah mereka memang banyak sekali pohon-pohon bambu dan berbagai pepohonan yang rindang. Tidak banyak orang yang lewat jalan setapak ini kecuali orang-orang yang sering naik turun gunung untuk mencari kayu bakar. Hanya jalan setapak ini yang menjadi akses utama untuk bisa naik ke gunung.
“Ayo cepat, sebentar lagi kita sampai!!” wajahnya semakin bersemu merah dan nafasnya mulai tidak teratur. Sedangkan gadis kecil di belakangnya berusaha mengejarnya dengan sekuat tenaga.
Bocah itu mengerutkan keningnya.
“Ne… Keiko-chan, daijoubu???”
Gadis itu mengatur nafasnya kemudian memeluk boneka kelinci di tangannya.
“Hehe.. aku tidak apa-apa onii-chan! Iya kan Yuri?!” dia tersenyum kepada kakaknya kemudian memeluk kembali boneka kelinci yang dipanggilnya Yuri.
“Tapi… onii-chan jangan meninggalkanku!” dia memasang wajah cemberut.
Yuu mengangguk penuh semangat.
“Janji?!”
“Baiklah!! Ayo kita teruskan perjalanan kita!!” ucap bocah itu lagi sambil tertawa. Dia kembali berlari dan jauh meninggalkan Keiko di belakang.
Keiko kembali pasang wajah cemberut. “Yuri, Onii-chan lupa dengan janjinya!!” ucapnya pada kelinci kesayangannya. Semakin lama dia berlari semakin dia masuk dalam hutan. Awan di atas semakin gelap dan pohon-pohon yang tinggi di sekeliling mereka membuat Keiko sedikit ketakutan. Jalan setapak yang harus dia lalui sekarang semakin menyempit apalagi sebelah kanannya adalah jurang yang cukup terjal.
“Onii-chan… “ teriaknya pada bocah lelaki yang sudah semakin berlari jauh meninggalkannya. Dia sudah tidak melihat kakaknya lagi. Diapun mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan apapun. Tiba-tiba suara guntur membuatnya terlonjak kaget hingga terpeleset.
“AAARRRGGHHHH!!!”
“Wuhu!! Aku sampai duluan!!” teriak bocah itu sembari mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dia berputar-putar kesenangan kemudian langsung terduduk kelelahan.
Setelah beberapa lama dia duduk menunggu adiknya yang tidak juga kelihatan batang hidungnya, dia memutuskan untuk kembali menyusul adiknya.
“Keiko-chan!”
Dia baru sadar kalo cuaca sedang tidak bersahabat. Dia harus kembali secepatnya atau orang tuanya akan memarahi mereka. Petir sesekali menyambar dan suara gemuruh guntur memekakkan telinga. Dia bergegas mencari adiknya. Dia tidak juga menemukan jejak adiknya.
“Keiko-chan! Kau dimana?!” Rintik-rintik hujan mulai turun. Membuat jalanan semakin licin. Dia sendiri sebenarnya sudah ketakutan setengah mati, tapi dia harus mencari adiknya.
“Keiko-chan!!” sama sekali tidak ada siapapun di sana selain dirinya. Bagaimana kalau dia tidak bisa menemukan adiknya. Apa yang akan terjadi. Dia berlari sekuat tenaga.
Tak jauh kemudian dia mendengar suara tangisan seseorang.
“Keiko-chan!!”
Gadis itu menoleh ke asal suara.
“Keiko-chan!!! Kau tidak apa-apa??!” Keiko melihat Yuu yang cemas dan ketakutan sekali di atas sana.
“Keiko-chan!! Maafkan aku!”
Keiko sedang terduduk, menangis tersedu-sedu di bawah sana. Bajunya sudah kotor begitu juga dengan boneka kelinci yang dipegangnya. Yuu tidak tahu harus bagaimana menolong adiknya yang berada jauh di bawah sana.
“Keiko-chan aku akan menolongmu!! Kau jangan kemana-mana ya!”
“Onii-chan!! Jangan tinggalkan aku sendiri! Aku takut!”
“Aku tidak akan kemana-mana Keiko! Aku akan…”
DAAARRRR!!!!
Petir menyambar salah satu pohon dekat Keiko dan seketika itu juga pohon itu mulai tumbang ke arahnya.
“KEIKO-CHAN!!!!!!”
——— ## ———
“Aku mohon oka-san…” bocah itu menangis menggelayuti lengan ibunya. Tapi ibunya seakan tidak peduli.
“Aku ingin bertemu dengan Keiko. Bagaimana keadaan Keiko bu!” dia merengek sambil menggelayuti lengan ibunya.
Seketika itu juga ibunya mengibaskan tangannya dengan kasar hingga membuat bocah itu terjatuh. Dia kaget ketika ibunya melakukan hal itu padanya. Selama ini ibunya tidak pernah berlaku kasar kepadanya. Tapi kenapa kali ini ibunya berbuat seperti itu padanya…
“Maafkan ibu…” seakan menyesali perbuatannya, wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke arahnya. Tangannya terulur dengan gemetar ke arah bocah yang wajahnya semakin pucat ketakutan.
BRAK!!!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang pria tinggi berjalan masuk dengan gurat wajah kemarahan yang tergambar jelas.
Dia langsung menarik lengan bocah itu.
“George! Kau menyakitinya! Jangan lakukan hal itu!” istrinya menarik lengan suaminya berusaha mengambil kembali bocah itu dari genggaman suaminya.
“Diam kau Eri! Ini bukan urusanmu!”
“Oto-san! Lepaskan… sakiiit!” bocah itu menangis meronta dari genggaman ayahnya tapi kekuatannya jauh jika dibandingkan ayahnya.
“George aku mohon! Dia tidak sengaja!”
“DIAM! Gara-gara dia, Keiko harus mengalami hal seperti ini!”
“Maafkan aku ayah!!” teriaknya sambil menangis tersedu-sedu.
“Sudah hentikan George!” ibunya hanya bisa menangis.
“Kau akan menerima pembalasannya!” ujar ayahnya geram kemudian menghentakkan Yuu hingga jatuh menabrak laci di belakangnya. Dia langsung pingsan seketika itu juga.
“Shirota Yuu!!” Ibunya terperanjat kaget melihat hal itu.
“Apa yang kau lakukan padanya George!! Dia hanya anak kecil!! Kau sudah keterlaluan!” Eri langsung memeluk Yuu yang tidak sadarkan diri dan menangis sejadi-jadinya.
George seakan tidak peduli dengan ucapan istrinya.
“Suruh dia menjaga perilakunya!” ada kilatan benci ketika dia menatap Yuu dalam dekapan Eri. Diapun langsung beranjak namun dia berhenti sejenak dan menatap tajam istrinya.
“Jauhkan dia dari Keiko. Bawa dia pergi jauh-jauh!!” kemudian dia langsung keluar meninggalkan mereka berdua.
Tahun berganti tahun, dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan ayahnya dan juga Keiko. Di rumah itu hanya ada ibunya dan dirinya seorang. Setiap kali dia menanyakan keberadaan ayah dan adiknya, ibunya seakan tidak peduli dengan hal itu.
“Ibu…dimana Keiko? Aku ingin bertemu dengannya.”
“Selesaikan makanmu, lalu segera kerjakan tugasmu.” Jawabnya sambil mencuci piring.
Aku hanya bisa terdiam di tempat dudukku. Rasanya semua menjadi hambar dan hampa sejak kejadian itu. Seolah-olah tidak ada yang mempedulikan dirinya. Tidak mempedulikan kehidupannya, bahkan seolah-olah dia tidak pernah ada.
Walaupun begitu ibunya selama ini selalu berada di sampingnya. Merawatnya. Namun itu tidak lebih hanya sebuah rutinitas semata. Seolah-olah nyawa dan kehidupannya sudah menghilang tak berbekas. Semuanya sudah berubah.
Yuu tidak menyentuh sama sekali nasi yang terhidang di hadapannya. Tidak ada selera makan lagi baginya.
“Kenapa ibu tidak pernah mau menjawab pertanyaanku.” Ujarnya datar.
“Kenapa ibu tidak mengatakan hal yang sebenarnya padaku.”
“Aku berhak tau tentang keadaan ayah dan juga Keiko.”
“Apa hanya karena hal itu ayah sangat membenciku hingga sekarang?”
“Apa ibu juga membenciku?”
Ibunya masih tidak bergeming dengan semua perkataannya.
“Jika ibu ingin membuatku menderita, kenapa tidak ibu bunuh saja aku sekarang sebelum aku …”
“SHIROTA YUU!! CUKUP!!”
“Perkataanmu sangat tidak sopan sekali!” wanita itu berbalik menghadap Yuu. Dia terlihat sangat letih. Seakan dia sudah lelah menghadapi hal ini. Walaupun tubuhnya sudah dimakan usia, namun dia masih terlihat cantik. Kemarahannya seolah sudah habis, begitu juga dengan kesedihan yang terus membayanginya. Dia memegang kepalanya dan berusaha untuk lebih bisa menguasai dirinya.
“Kembalilah ke kamar, kau harus istirahat.” Ujarnya lirih.
Yuu masih terdiam menatap ibunya.
“Jika ibu tidak mengatakan apapun padaku, sebenarnya itu lebih menyakitkan bagiku.”
Dia beranjak dari kursinya dan meninggalkan ibunya yang hanya bisa memandangnya tanpa berkata apapun. Tatapan kosong dan hampa.
Sejak saat itu Yuu pergi meninggalkan rumah seorang diri. Dia sama sekali merasa tidak ada gunanya berada di rumah itu lagi. Hanya akan mengingatkan dirinya pada mimpi buruk dan juga kehidupannya. Tapi bayangan kejadian itu tidak akan pernah bisa dia lupakan. Seperti sebuah kutukan yang selalu merenggut kebahagiannya.
——— ## ———
Antwerp, Belgium – Europe
Spring Season
09.00 p.m.
“YUU!!”
Seketika itu juga dia membuka matanya. Dilihatnya seorang cewek menatapnya dengan cemas. Dia langsung terbangun, kepalanya langsung berdentum dengan sangat keras sekali. Dia berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya dan itu membuat pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Kedua tangannya langsung menopang dahinya.
Dia berusaha mengatur detak jantungnya yang berdetak tidak beraturan.
“Shit! That dreams…” gumam Yuu pelan. Keringat bercucuran di dahinya.
“Kau tidak apa-apa?” ujar cewek itu lagi.
Dia langsung menengadah melihat wajah cemas dihadapannya.
“Nah… it’s OK. What are you doing here?”
“Mimpi buruk???” Tanya Hinata tanpa mempedulikan ucapan Yuu.
“Aku tanya sedang apa kau di sini??” ulang Yuu dengan kesal.
“Aku mencemaskanmu dan kau bilang sedang apa aku di sini?!” ucap Hinata datar.
Yuu hanya diam saja. Kepalanya masih terasa sakit sekali.
“Terima kasih banyak.” Sindir Hinata dengan beranjak dari sisi tempat tidur Yuu namun Yuu langsung menarik tangannya membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Selama sepersekian detik mereka hanya terdiam.
“Apa kau begitu mencemaskanku?” Yuu memandang kedua mata Hinata lekat-lekat.
“You wish!” Hinata langsung menarik tangannya dan beranjak dari sana. Dia beringsut membelakangi Yuu. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa tempat dia tadi sibuk mengerjakan penyelidikannya dengan laptop Yuu.
Yuu beranjak dan mengikuti langkah Hinata. Jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam. Dia tidak sadar kalau sudah tidur selama ini. Mimpi tadi hanya membuat kepalanya semakin pusing.
“Hei! Sudah jam segini! Kau harus kembali ke kamarmu!” dia menjatuhkan tubuhnya di samping Hinata. Dia memijit keningnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya yang teramat sangat.
“Sebentar lagi!” sahut Hinata cuek.
“Penyelidikan bisa kita lanjutkan besok.”
“Aku bilang sebentar lagi!” pandangannya masih tertuju pada laptop.
Tanpa banyak bicara Yuu langsung menekan tombol shut down. Spontan saja Hinata menjadi gusar. Dia bahkan belum menyimpan data-data yang sudah dibuatnya.
“What the hell are you doing??!!” Hinata jengkel dengan kelakuan Yuu yang seenaknya itu.
“Just go to your room!” Yuu tidak mempedulikan kemarahan Hinata. Dia masih terlalu pusing untuk beradu argumen dengan cewek keras kepala itu.
“No I won’t!!! I’m so vexed!!”
“Can you just shut up your mouth and go back to your room?!!” entah setan apa yang membuat Yuu berteriak sekasar itu kepada Hinata. Dia sendiri mengutuk dirinya sendiri.
Hinata langsung terdiam dengan ucapan Yuu kali ini. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Yuu berteriak sekasar itu kepadanya.
Hinata tersenyum samar, “Maaf jika keberadaanku mengganggumu.”
Hinata langsung beranjak dari tempat itu. Dia menyambar tas yang tergeletak di hadapannya dan bergegas keluar.
“Shit!!!” Yuu hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. Pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Itu semua gara-gara mimpi buruk itu yang terus terulang seakan menjadi kutukan yang akan melekat dalam dirinya.
== ## ==
Hinata menatap bulan yang sedang bersembunyi di balik awan. Dia mengambil nafas dalam-dalam. Tercium aroma udara malam yang sejuk. Kemudian dia menghembuskannya perlahan. Dia sangat suka aroma musim semi.
Hinata berjalan menyusuri jalan yang cukup ramai. Kali ini mereka ditugaskan ke Belgium tepatnya di daerah Antwerp. Tempat ini adalah salah satu kota terindah dan dikenal sebagai Diamond City.
Bangunan-bangunan yang masih bernuansa kastil-klasik berdiri dengan megah. Gemerlap lampu yang bersinar malam ini menambah suasana romantis yang semakin hangat. Tempat ini memang luar biasa indah bagi Hinata. Dia tidak habis pikir jika di tempat seperti ini juga ada Black Sorrow yang harus mereka buru.
Tidak terasa langkah kakinya sudah membawanya ke Grote Markt. Pusat kota yang indah, dengan toko dan restoran di sekelilingnya.
“Hinata-san?” seseorang dengan suara yang sudah dikenalnya memanggilnya.
“Uruha? Sedang apa kau di sini? Kukira kau bersama dengan Fuyuno.” tidak menyangka bisa bertemu dengan Uruha di tempat seperti ini.
Uruha mengangkat tas plastik di tangan kanannya.
“Hanya membeli beberapa macam makanan. Udara dingin membuatku cepat lapar.”
“Kau sendiri sedang apa di sini?”
“Hmm… hanya ingin jalan-jalan.”
Uruha mengerutkan kening. “Alone?”
Hinata terdiam sejenak kemudian memandang Uruha, “Both of us… If you don’t mind…”
“Sure.” Uruha membalas dengan senyuman hangat.
Mereka kembali berjalan di sepanjang Grote Markt.
“Is there something on your mind?” Uruha seperti mengerti apa yang mengganggu pikiran gadis di sampingnya itu.
“Hmm…” Hinata seperti enggan untuk berbicara.
“So… what is it?”
“Nothing…” Hinata menatap langkah kakinya. Dia memandang sepatunya tanpa memperhatikan jalan di hadapannya.
“Watch out!” Uruha menarik lengan Hinata untuk menyingkir dari beberapa orang yang sedang mengangkut karung-karung dari truk untuk dibawa ke dalam sebuah toko.
“Are you okay?”
“Yeah… thanks.” Hinata sedikit terlonjak kaget. Dia baru sadar kalau dia tadi sedang melamun hingga tidak melihat jalan dan hampir menabrak orang.
“Mungkin lebih baik kita duduk di sana saja sambil menikmati secangkir kopi?” Uruha menatap Hinata dengan tatapan hangatnya. “Aku yang traktir.” Lanjutnya.
Hinata hanya tersenyum simpul “I didn’t even know you could do that kind of thing for me?”
“Just for this time …” Uruha tertawa renyah. Mereka berdua pun menuju salah satu café untuk menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi.
Setelah memesan dua cangkir kopi mereka kembali terdiam menatap aktivitas orang-orang di sekitar mereka. Walaupun malam sudah beranjak semakin larut, namun masih banyak saja orang yang menikmati indahnya Grote Markt kali ini.
Hinata menghela nafas panjang. “It’s been nearly two weeks since our last visit in Europe and we still got nothing.”
Uruha menghirup sedikit kopinya. Dinginnya udara malam sedikit berkurang dengan secangkir kopi hangat.
“Hmm… sepertinya memang target kita kali ini tidak seperti target-target kita sebelumnya.”
Mereka kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Tapi… menurutku bukan hal itu yang mengganggu pikiranmu kali ini Hinata-san.”
Hinata langsung menatap tajam ke arah Uruha.
“Jangan bilang kau sudah mulai menandingiku dalam hal membaca pikiran orang?”
Uruha tersenyum mendengar ucapan Hinata. Dia memang cewek yang suka bicara apa adanya dengan orang lain. Bahkan terkadang terdengar kasar, namun hal itu juga yang membuatnya menjadi salah satu anggota 2SO2G yang paling tegas. Tapi dia termasuk cewek yang introvert jika membicarakan segala sesuatu mengenai latar belakangnya, mengenai masa lalunya, mengenai dirinya sendiri.
“Mungkin.” Sahut Uruha kalem.
Hinata hanya tersenyum simpul, kemudian menghirup kopinya yang tinggal separuh.
Selama beberapa saat mereka sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tidak masalah bagi mereka, hanya melihat dan mendengarkan keramaian di sekitar, orang-orang yang hilir mudik seperti tidak memiliki beban pikiran, mengobrol sembari sesekali tertawa juga sedikit hembusan angin yang membuat udara semakin dingin seolah-olah tidak mereka rasakan sama sekali.
“Uruha…”
“Hngg?”
“Apa kita juga bisa menikmati hidup ini secara normal seperti halnya mereka…” Hinata memandang tak jauh darinya ada seorang laki-laki yang menggendong seorang bocah laki-laki, kira-kira berusia 5 tahun. Sedangkan di sampingnya seorang wanita yang sedang membantu anak perempuannya, kira-kira berusia 3 tahun dengan wajah kecilnya yang belepotan terkena ice cream. Sepertinya mereka memang sepasang suami istri bersama kedua anaknya, tampak sangat bahagia.
Uruha mengikuti arah pandangan Hinata. Mereka sama-sama terdiam sejenak melihat suasana yang sangat hangat, seolah-olah tidak ada yang perlu mereka takuti, tidak ada yang perlu mereka pikirkan, tidak ada yang perlu mereka cari, karena mereka terlihat sudah mendapatkannya, kebahagiaan.
“Apakah kita masih bisa tertawa lepas seperti mereka…” lanjut Hinata. Matanya masih menatap ke arah yang sama. Kali ini sang ayah dan ibu tertawa melihat tingkah anak perempuannya yang masih belepotan dengan ice cream di sekitar mulutnya, dia terlihat mencoba berbicara walaupun masih dengan bahasa yang kurang bisa dimengerti.
“Normal life huh…” sambung Uruha yang juga tidak melepaskan pandangannya ke arah mereka.
“Terkadang… ketika kau tertawa belum tentu kau bahagia, seperti halnya ketika kau menangis bukan berarti kau bersedih.”
Kali ini Hinata berpaling menatap Uruha. Cowok di sampingnya itu memang paling dewasa dalam pemikiran dibandingkan anggota yang lain. Dia yang pembawaannya paling tenang. Namun terkadang cukup sulit untuk bisa mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Itu juga yang sering membuat Hinata penasaran dan ingin tahu lebih banyak mengenai Uruha.
“Bagiku… bersama dengan kalian adalah kehidupan yang normal…” lanjut Uruha. Matanya masih memandang di tempat yang sama tetapi Hinata yakin jika dia sedang memikirkan sesuatu yang lain. Sesaat kemudian dia berpaling menatap Hinata dengan ekspresi wajahnya yang masih terlihat tenang.
Hinata merasa apa yang dikatakan Uruha mungkin memang benar. Selama ini dia merasa tidak sendiri. Dan ada orang-orang yang sangat disayanginya. Dia juga bisa mengenal perasaan lain selain kebencian dan dendam. Ruang kosong di dalam hatinya mungkin kini sudah penuh dengan arti rasa bahagia. Maybe… this is something called as normal…
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kalian…” ucap Hinata sambil memandang langit. Tidak ada satupun bintang terlihat malam ini. Hanya bulan sabit yang terlihat cahayanya sedikit redup.
“Yeah… I think you’re rite…” Uruha kembali menghirup kopinya. Udara malam ini benar-benar membuat badan terasa beku. Tetapi masih banyak juga orang-orang yang memilih untuk menghabiskan waktunya di luar.
“Thanks for this nite, Uruha.”
“Anytime…”
Mereka berdua tersenyum.
“Well, it seems rare for me watching you smiling like that.”
“Stop joking around!” Hinata langsung menghapus senyum dari wajahnya berganti wajah garangnya.
Uruha tertawa, sepertinya Hinata sudah kembali ke tabiat asalnya. Walaupun sebenarnya Uruha yakin, bukan hal itu yang mengganggu pikiran cewek di hadapannya itu.
Terdengar bunyi handphone dari saku jaket Uruha. Terlihat di layar nama Yuu. Setelah mengangkat telepon itu, Uruha hanya berbicara cukup singkat.
“What’s happened?” tanya Hinata dengan sikap sigap.
“Back to normal life.” Sahut Uruha singkat. Seolah Hinata mengerti apa yang dimaksud oleh Uruha mereka segera menuju tempat yang Yuu sebutkan pada Uruha.
“Where are we going now?”
“Cathedral of Our Lady.”
——— ## ———
Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di Cathedral of Our Lady, sebuah bangunan berarsitektur Gothic dan dikenal sebagai monumen gereja tertinggi di Antwerp. Bangunan yang menjulang tinggi ini masih terlihat megah walaupun sudah dimakan usia. Di sana sudah ada Yuu dan Fuyuno.
“Hinata-chan!! Uruha-kun!!” Fuyuno melambaikan tangannya kepada mereka berdua.
“Sebelah sini!!” Yuu mendahului yang lain memasuki bangunan megah itu.
Seorang wanita berdiri di altar tak jauh dari mereka. Ruangan terlihat gelap. Hanya ada beberapa batang lilin di sekitar altar, bersinar redup. Wanita itu memandang kedatangan mereka dengan senyum sinis.
“Apakah hari ini sedang ada pesta?”
“Jangan menatap matanya, dia bisa melihat masa lalu orang lain dan mempengaruhi pikiran mereka.” Uruha memperingatkan yang lain dan dia sendiri sudah siap dengan panah serta busur di tangannya.
“Well… well…well… take it easy…I won’t hurt you guys. We are on party, aren’t we?” matanya menatap tajam mereka satu persatu. Seringai lebar terlihat jelas di wajahnya yang cantik.
“Where are the others?” tanya Uruha dengan panah siap untuk dilepaskan dari busurnya.
“The others?” tanyanya dengan melangkah mendekati mereka berempat. Gaun hitam panjangnya terseret bersamaan dengan bunyi sepatu hak tingginya. Kulitnya terlihat pucat terkena cahaya bulan yang masuk dari jendela.
“Well… untuk malam ini, hanya ada aku.” tiba-tiba dia menghilang dari hadapan mereka.
“Dia menghilang!!” pekik Fuyuno.
“Tetap waspada! Dia berbeda dari Black Sorrow yang lain!” Yuu memperingatkan yang lain. Penglihatan mereka juga cukup terbatas karena tidak banyak cahaya yang ada di sana. Itu menyulitkan ruang gerak mereka untuk berjalan dengan lebih leluasa.
“Enough for this shit!” sahut Hinata ketika dia maju beberapa langkah, tiba-tiba Black Sorrow itu sudah ada tepat di hadapannya.
“I know about your parents…” bisiknya tepat di telinga Hinata yang langsung membuatnya terdiam.
“Jangan hiraukan ucapannya!” teriak Uruha, satu panah melesat tepat di sebelah Hinata. Namun panahnya hanya menembus udara. Black Sorrow itu kembali menghilang.
Hinata cukup terkesiap ketika Black Sorrow itu tidak disangka berada tepat di hadapannya. Entah apa yang terjadi jika Uruha tidak membantunya tadi.
“Dimana dia??!” teriak Fuyuno sambili memegang pistolnya.
Sekelebat bayangan lewat di belakangnya, spontan Fuyuno menjerit dan menembak asal-asalan.
“Fuyuno! Jangan buang-buang pelurumu!” teriak Yuu sambil tetap berkonsentrasi.
“Yuu apa kau bisa melacaknya?!” Uruha yang membelakangi Yuu juga tetap melihat sekeliling.
“Shit! Aku tidak bisa melacaknya! Semuanya serba samar!”
“HAHAHA! HANYA ITU YANG KALIAN MILIKI?!” terdengar suara di sekitar mereka.
“KUPIKIR PESTA INI AKAN LEBIH MENEGANGKAN! TAPI TERNYATA SANGAT MEMBOSANKAN!”
“Tunjukkan dirimu pecundang!!” teriak Yuu sudah tidak sabaran.
“PECUNDANG??! SIAPA YANG KAU PANGGIL PECUNDANG??!”
SCRATCH!! Yuu merasakan lengan kirinya terasa panas seperti terbakar dan tiba-tiba ada bekas goresan yang cukup tajam di sana. Black Sorrow itu menyerang Yuu dengan sangat cepat dan Yuu sedikit lengah. Fuyuno memekik melihat darah segar keluar dari luka goresan itu.
“Sial!!” ujar Yuu sambil meringis kesakitan. Bagaimana bisa dia melukaiku tanpa bisa kusadari kalau dia ada di dekatku, batinnya.
HAHAHA…!! Suara itu kembali menggema di dalam ruangan itu.
Hinata memicingkan matanya dan menajamkan telinganya. Dia mendengar sesuatu.
Dia melihat wanita itu berada di lantai dua.
“Disana!” teriak Hinata sambil berlari menuju balkon lantai dua. Dia harus memicingkan matanya melihat dengan samar di antara cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah-celah dinding yang terbuat dari batu-bata itu. Tidak banyak cahaya yang masuk sehingga tempat itu benar-benar gelap. “Aku kehilangan jejaknya!” teriak Hinata pada yang lain.
Uruha tetap berkonsentrasi. Dia merasakan ada sesuatu yang sedang menatapnya dari belakang, dengan cepat dia berbalik dan melepaskan anak panahnya.
“HAHAHA!!! KAU KURANG CEPAT…MY DEAR…!” anak panah Uruha hanya mengenai sedikit gaun Black Sorrow itu.
Tanpa pikir panjang Hinata menyambar obor di dekatnya dan melemparnya ke arah bayangan hitam di belakang Yuu.
“SHITT!!!WHAT THE… ARE YOU TRYING TO KILL ME??!!” Yuu sewot melihat perbuatan Hinata.
“You’re welcome. I’m saving your life!” sahut Hinata sarkatis.
Uruha melihat sekilas ketika obor yang di lempar Hinata tadi ternyata cukup membuat Black Sorrow itu terlihat silau dengan cahaya api. Jadi itu kelemahannya. Dia selalu menghindari cahaya.
Uruha melihat sekeliling, tidak banyak memang cahaya yang dari luar yang bisa masuk ke dalam. Itulah mengapa tempat ini menjadi tempat yang menguntungkan bagi dia. Tapi apa yang bisa dilakukan untuk membuat cahaya dalam jumlah yang cukup besar.
Dia berlari ke arah lilin-lilin yang berjajar di salah satu meja, kemudian menjatuhkan semuanya ke lantai hingga menyulut taplak meja serta kelambu hingga nyala api membesar membuat ruangan lebih terang dari sebelumnya.
HAHAHA…! APA KAU SUDAH FRUSTASI?! KAU HANYA MELAKUKAN HAL YANG SIA-SIA!”
“U… Uruha-kun… apa yang kau lakukan?” Fuyuno memekik pelan.
“Fuyuno! Pergi ke tengah altar!”
“Hhe? Nani?”
“Pergilah ke tengah altar!” perintah Uruha sambil membuat nyala api semakin membesar mengitari seluruh ruangan.
Fuyuno mengangguk perlahan. Diapun berlari ke tengah altar namun tiba-tiba dia memekik pelan, ada yang menghentikan langkahnya.
“Where are you going, dear?” wajah pucatnya menyeringai lebar.
“You can run but you can’t hide…” ucapnya pelan sambil berjalan mendekati Fuyuno. Fuyuno hanya bisa mengangkat pistol Glok 19-nya dan mengarahkannya ke Black Sorrow itu.
“What will you do with that thing? Shoot me??” dia tertawa semakin mendekati Fuyuno yang masih berusaha mengarahkan pistolnya ke arah wanita itu.
“Or… are you trying to get into my mind?” wanita itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh Fuyuno namun peluru melesat lewat di hadapan Black Sorrow itu. Hampir saja mengenainya tau bahkan hampir mengenai Fuyuno.
“Don’t you dare to touch her! Your target is gonna be me!”
“Yuu…-kun…” pekik Fuyuno.
“Just go to the altar!” teriak Yuu pada Fuyuno. Fuyuno pun langsung berlari menuju altar.
“Shirota Yuu…how pity you are…”
“What?”
“You are a murder…”
Yuu terkesiap.
“What the hell are you talking about!”
“If she alive, she will become a pretty girl right…”
Yuu seperti kembali ke masa lampau dimana dia sedang bersama seseorang yang sangat disayanginya.
“Who are you talking about! I don’t understand!” sahut Yuu gusar.
“Well, how bout this…” wanita itu sudah mendekat ke arah Yuu dan membisikkan sesuatu kepadanya.
“Ke…i…ko…-chan…”
“YUU-KUUN!!” teriak Fuyuno panik melihat Yuu berada dalam bahaya.
“Let me help you, I’ll let you go from those pain…” bisiknya di telinga Yuu sambil menyeringai.
Uruha membidik ke arah Black Sorrow itu dengan anak panah yang membara oleh api, tanpa pikir panjang anak panah itu dilepaskannya melesat melewati Fuyuno dan tepat mengenai dada makhluk itu. Dia berteriak kesakitan, api menjalar membakar tubuhnya.
“TIDAAAKKK!!!”
Hinata membidikkan Barreta 92-nya tepat ke kepala makhluk itu namun tiba-tiba sebuah peluru tepat menembus kepala Black Sorrow itu dengan cepat. Yuu sudah lebih cepat menggunakan Bloody Rose-nya.
Fuyuno terduduk lemas dengan nafas terengah-engah melihat kejadian di hadapannya.
“Kau tidak apa-apa?” Uruha berjalan mendekati Fuyuno, dia menoleh dan mengangguk pelan ke arah Uruha.
Uruha membantu Fuyuno berdiri dan menuntunnya mendekati Yuu.
“She isn’t the one that we looking for…” Uruha menatap makhluk yang tergeletak tak bernyawa itu.
“But I think we got some clues…” tanpa disadari Hinata sudah berdiri di dekat mereka bertiga dan mengambil sesuatu yang terjatuh di samping Black Sorrow.
“Look at this sign,” dia menunjuk sebuah simbol yang ada di leher Black Sorrow.
“Itu kan… tanda seperti yang pernah diperlihatkan Hyde-san ke kita! Menandakan sebuah kelompok Black Sorrow.” seru Fuyuno setelah mengingat sesuatu.
“Yeah, kau benar. Dan dia tidak sendiri. Ada yang lain, mereka bisa menuntun kita ke pimpinan mereka.” sahut Hinata sambil memungut sebuah liontin yang tergeletak tak jauh dari Black Sorrow.
“Kau benar, jika selama ini Black Sorrow yang kita tahu bekerja secara individu dan bergerak secara terpisah, tapi untuk yang satu ini sepertinya ada yang menggerakkan mereka.” Uruha menganalisis setiap kejadian yang selama ini mereka alami selama di Eropa.
“Kita akan menemukannya.” Hinata menaruh liontin itu ke dalam sakunya.
Yuu yang sedari tadi tidak mengucapkan apapun berlalu begitu saja.
“Ayo kita kembali.” Uruha menepuk pelan bahu Hinata. Hinata hanya mengangguk. Uruha pun menyusul Yuu. Sedangkan Hinata masih terdiam untuk beberapa saat. Ada yang mengganggu pikirannya. Tapi ada yang menggelayuti lengannya, “Hinata-chan, daijobou?” Fuyuno dengan kuncir kudanya memandang cemas ke arahnya.
Hinata menghela nafas panjang. “Yah… aku baik-baik saja.”
== ## ==
“Jika bukan karena bocah itu, dia tidak akan seperti ini. Apa kau mengerti hal itu?”
Seorang bocah laki-laki meringkuk di atas tempat tidur di balik selimutnya. Dia menutup kedua telinga dengan telapak tangannya. Dia tidak ingin mendengarkan apapun, tapi seolah-olah kedua tangannya pun tidak bisa menutup telinganya dari suara-suara di luar kamarnya.
“Tolong hentikan, dia masih terlalu kecil untuk disalahkan.”
“Terlalu kecil??!! Bagaimana dengan Keiko?!! Seharusnya dia sudah tahu bahaya seperti apa yang terjadi kalau dia pergi ke sana! Begitukah caramu mendidik anak?!!”
“George!! Beraninya kau berkata seperti itu padaku?” terdengar suara isak tangis.
“Simpan air matamu karena itu tidak akan membuat segalanya kembali seperti semula!”
“George kau tidak bisa melakukan hal ini!”
“Cukup! Tidak sekali ini saja dia membahayakan Keiko. Aku akan membawa Keiko pergi dari sini!”
“George! Please!”
“Dia… hanya membawa kutukan!” ujarnya geram. Terdengar pintu ditutup dengan keras dan sisanya hanya terdengar suara isak tangis lemah di luar.
Yuu tersentak bangun dari mimpi buruknya. Sekujur tubuhnya berkeringat dan nafasnya terengah-engah bersamaan dengan deru detak jantungnya. Kepalanya terasa semakin sakit luar biasa dari sebelumnya.
Dilihatnya di tempat tidur sebelah Uruha tidak bergeming. Sepertinya dia masih terlelap.
Hanya terdengar desiran angin dan hujan di luar jendela yang gelap. Dengan limbung dia beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan menuju lemari es dan mengambil sekaleng soft drink. Ditempelkannya kaleng soft drink dingin itu ke keningnya, berharap rasa sakit di kepalanya bisa berkurang.
Menuju ke ruang tamu dan direbahkan tubuhnya di atas sofa. Nafasnya mulai teratur dan sakit di kepalanya mulai terasa mereda. Kembali membuka matanya, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, yang jelas dia hanya ingin bisa melupakan apapun yang muncul dalam mimpinya.
Perlahan dia berusaha menjernihkan pikirannya kembali hingga tak lama dia sudah mulai tertidur kembali di atas sofa.
——— ## ———









0 komentar:
Posting Komentar