Selasa, 19 Juli 2011

2SO2G PART 2

Diposting oleh Orchidya di 01.31

Minna-san..

Selanjutnya….mumpung ada waktu jadi aku lanjut aja ke PART 2 ya..

Ditunggu komentarnya~

sankyu…

PART 2

Oh Corp. atau sering disebut dengan Abyss Tower, sebuah raksasa perusahaan yang bergerak di bidang otomotif.

Gedung pencakar langit yang berlantai 200 itu tampak berdiri angkuh di tengah gelapnya malam dan hiruk pikuk kota Tokyo.

Dan di lantai teratas gedung tersebut,

Hyde menatap pintu kayu jati ganda berukir hiasan ornamen nan mewah dan gagang pintu yang bersepuh emas itu. Di atas pintu terdapat papan nama yang terbuat dari granit hitam dan bertuliskan “Executive President”. Dia menghela napas sejenak. Lantas memencet bel yang dilengkapi layar monitor di dinding di sebelah pintu.

“It’s me, Hyde”, gumam Hyde tepat di depan speaker.

“I know, come in , please”, jawab sebuah suara pria dari dalam ruangan.

Hyde mendorong gagang pintu dan melangkah masuk ke dalam.

Sesaat setelah menutup kembali pintu di belakangnya, Hyde hanya berdiri dalam diam di sana, menunggu orang yang ditemuinya ini bicara.

“What took you so long?”, sapa sebuah suara dari balik sebuah kursi lengan besar berlapis kulit hitam.

Hyde mengerutkan kening.

“’M sorry. Got a trouble with the kids”, gumam Hyde. Matanya terus mengawasi kursi kulit mewah tersebut dan menunggu hingga sosok di balik kursi itu menunjukkan wajahnya.

Hingga beberapa saat kemudian, kursi itu berputar perlahan dan tampaklah seorang pria berbadan atletis dan berwajah tampan. Wajahnya menunjukkan kalau dia adalah seorang indo.

Pria itu menatap Hyde dengan tatapan kalem.

Sebuah tatapan yang selalu ditunjukkannya saat dia hanya seorang diri dengannya.

Hyde melangkah mendekat ke arah meja orang itu.

Pria itu hanya menyeringai. Dia meletakkan kedua lengannya di atas meja kayu jati mengkilatnya dan menopang dagunya dengan kedua tangannya.

“Tell me how’s it going today??? Excellent as usual, it is not?”, tanya pria itu dengan nada ceria namun tetap kalem.

Hyde diam sejenak, namun kemudian dia menghela napas.

“If you wanna say so. Julia might’ve been so happy if she hear that. You two just alike. But I refuse to think like that”, ujarnya. Pria itu mengerutkan kening untuk pertama kalinya untuk saat itu.

“What’s happened?”, tanya pria itu dengan nada cemas.

Hyde menatap kedua mata pria itu lurus-lurus.

“Nothing. They just too careless to act. Thinking with those brain of teens, not much I can do about that. Guess I’m too old now”, ujar Hyde dengan cuek namun tersirat nada sarkastik di dalamnya.

Pria itu terkekeh.

“You’re just a bit strict to them”, ujar pria itu. Wajahnya yang tertawa makin menunjukkan pesonanya. Wanita manapun akan bertekuk lutut hanya dengan memandang matanya yang ekspresif dan coklat terang itu.

Hyde mendengus karena pikirannya yang konyol.

“I’m not. I’m just trying to get them realize what’s exactly going on with them”, gerutu Hyde.

Untuk beberapa saat mereka hanya bertatapan dalam diam.

“Dennis, terus teranglah saja. Sebenarnya kau hanya memanfaatkan kekuatan anak-anak itu untuk kepentinganmu sendiri, kan???”, cetus Hyde dengan nada serius.

Pria bernama Dennis itu mengangkat alis mendengar kata-kata Hyde barusan.

“What do you mean by that???”, tanya Dennis, berusaha menyembunyikan rasa tersinggungnya.

“Oh, come on…Stop acting dumb like that. Kau pikir aku tidak tahu apa sebenarnya yang selama ini kau sembunyikan, bahkan dariku sekalipun??? Kau terlalu meremehkanku”, seru Hyde.

Dennis mengerutkan kening. Wajahnya tampak serius sekarang.

“Watch yourself, Hideto. Don’t you remember??? I’m your president”, ucap Dennis dengan nada dingin.

Giliran Hyde yang mengangkat alis.

“I won’t allow any rude comments of yours to me”, ucap Dennis sekali lagi dengan nada tajam.

Hyde membuka mulutnya untuk protes, namun diurungkannya niatnya. Dia menundukkan wajahnya. Kedua tangannya terkepal.

“Please, do forgive me”, desisnya walaupun dalam hati dia masih sangat kesal pada pria itu.

Untuk beberapa saat Dennis hanya diam dan memandanginya lurus-lurus.

“I forgive you, Hideto. Now please take your good look at those kids for me”, ucap Dennis kalem seraya tersenyum.

“Can be understood”, gumam Hyde.

Gaea University, pagi itu, tepatnya Fakultas Seni di kelas Technical Drawing.

Yuu menguap lebar-lebar dan meregangkan tubuhnya. Wajahnya tampak lelah. Hinata yang ada di sisinya memutar bola matanya dan mendengus.

“Berapa lama lagi aku harus menjalani hidup seperti ini?”, gumam Yuu setengah mengeluh seraya menggaruk-garuk kepalanya dengan malas.

“Berhentilah mengeluh. Dasar Pemalas”, komentar Hinata seraya membalas sapaan teman-temannya dengan anggukan kepala.

Yuu mencibir. Dia menjatuhkan dirinya di atas kursinya di sudut ruangan dengan lelah. Dan tak butuh waktu lama hingga dia tenggelam dalam tidurnya.

Hinata memutar bola matanya kembali. Dia duduk di kursinya di baris sebelah Yuu.

Dia baru saja akan memasang iPoD-nya hingga dia mendengar suara teriakan seseorang yang sangat familiar di telinganya memecah kedamaian pagi di kelas itu.

“PAAAAAGGIIIIIIIIIII!!!!!!!”

Kontan seisi kelas menatap ke arah suara yang penuh ceria dan semangat itu. Sebagian besar dari mereka tersenyum dan membalas sapaannya.

Dan sekarang, gadis bertubuh mungil dengan rambut gelap dikuncir dua itu melesat dengan cepat menuju bangkunya di depan Hinata.

“Pagi, Hinata-chan!!!!”, sapanya girang seraya menepuk punggung Hinata keras-keras membuat Hinata tersedak. Dia mendelik ke arah gadis itu.

“Fuuuyyyuuuunnnooooo….Mau mati ya???”, geramnya seraya memasang “Hinata’s Special Death Glare” ke arahnya. Fuyuno hanya menyeringai gugup.

“Ehehehehe..Maaf…”, ujarnya seraya duduk di kursinya. Dia menoleh ke arah Yuu yang air liurnya sudah kemana-mana, lantas nyengir lebar.

“Mana Uruha?”, tanya Hinata.Fuyuno menatapnya kembali. Dia menggelengkan kepalanya keras-keras membuat kuncirnya melambai mengikuti gerakan kepalanya.

“Aku juga nggak tahu. Tadi aku berangkat sendirian, kok. Memangnya Uruha-kun belum datang ya?”, Fuyuno bertanya polos.

Hinata mendengus.

“Aku nggak akan bertanya kalau aku melihatnya”, cetus Hinata kesal.

“Oh, ya? Tumben, biasanya Uruha-kun yang paling rajin di antara kita”, gumam Fuyuno. Ada sedikit rasa cemas merayapi hatinya.

——— ## ———

Mobil Mercedes Benz hitam berhenti dengan mulus di halaman Gaea University.

Lantas seorang pria dengan setelan jas serba hitam turun dari jok pengemudi dan membukakan pintu penumpang.

“Terima kasih, Tetsu-san”, ucap Uruha kalem pada sopir pribadinya. Pria bernama Tetsu itu tersenyum padanya.

“Silakan Tuan Muda. Semoga hari ini menyenangkan”, ucapnya kalem seraya memberi jalan pada Uruha untuk lewat dan membungkukkan tubuh dengan hormat padanya.

Uruha menatapnya sekali lagi dan tersenyum hangat kemudian melangkah pergi meninggalkan pria itu.

Segerombolan mahasiswi yang melihatnya lantas menyapanya dengan girang dan saat Uruha membalas sapaan mereka, mereka tampak melayang dalam bahagia.

Uruha hanya meyeringai dan meneruskan langkahnya menuju kelas Technical Drawing. Tak sabar untuk bertemu dengan ketiga sahabatnya, khususnya salah satu di antaranya yang selalu membuat hatinya tenang sekaligus gugup setiap kali dia hadir di setiap tatapan matanya.

Saat Uruha tenggelam dalam pikirannya mengenai orang itu, tanpa sadar dia telah menabrak seseorang. Uruha tersentak. Dia buru-buru menatap orang yang barusan ditabraknya.

“Ah..Maaf!!! aku tidak senga..ja..”, kedua mata Uruha terbelalak ketika melihat sosok yang ada di hadapannya. Seorang pemuda, dengan jaket dan celana jeans serba hitam. Syal tebal berwarna abu-abu menutupi leher hingga separuh wajahnya, membuat pemuda itu tampak misterius. Hanya rambutnya yang dicat pirang yang mencolok dari anak ini. Dan Uruha sangat mengenalnya.

“Ru..ki..kun?”, desisnya.

Pemuda yang dipanggilnya “Ruki-kun” itu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Lantas dia menganggukkan kepala pelan dan berlalu meninggalkan Uruha yang masih tercengang tanpa mengatakan apapun.

Uruha menoleh ke arah Ruki pergi, namun dia sudah menghilang.

Uruha terdiam sejenak, kemudian menghela napas dan meneruskan langkahnya kembali menuju kelas.

Dalam hatinya dipenuhi pertanyaan mengenai pemuda yang bernama Ruki tadi.

——— ## ———

Kembali ke kelas Technical Drawing.

“Apa kau tahu??? Anak itu sudah kembali!!!”, desis seorang mahasiswi dengan wajah panik.

“Siapa???”, seru mahasiswi lainnya.

“Itu, cowok aneh, pendiam, penyendiri, suram, dan suka bicara sendiri itu!!!”, desisnya dengan suara nyaris melengking. Mahasiswi yang diajaknya bicara membelalakkan mata.

“Ma..maksudmu Matsumoto Takanori???”, sahutnya.

“Ssstt!!!”, desis yang lain seraya menempelkan telunjuknya ke mulutnya dan mendelik ke arah temannya. Temannya cemberut.

“Jangan keras-keras. Aku dengar dia baru keluar dari rumah sakit jiwa”, desisnya lagi.

Mahasiswi yang lain hanya bisa terbelalak shock dan membekap mulutnya.

Begitulah, mendadak seisi kelas heboh dengan berita “kembalinya mahasiswa bernama Matsumoto Takanori” itu.

Fuyuno mengerutkan kening. Dia menoleh ke arah Hinata dan gadis itu pun hanya bisa mengerutkan wajah dan mengangkat bahu.

“Apa yang terjadi dengan Matsumoto?”, tanya Hinata pada seorang mahasiswa di belakangnya.

“Oh, entahlah. Ada yang melihatnya tadi pagi. Kabarnya sebulan kemarin dia dirawat di rumah sakit jiwa. Karena itulah dia tidak pernah masuk”, ujarnya menjelaskan. Hinata mengangkat alis.

“Pagi Uruha-kun!!!!”, mendadak Hinata tersentak mendengar suara Fuyuno yang melengking tinggi menyapa Uruha yang baru saja tiba di kelas. Dia menoleh ke arahnya.

Uruha tersenyum ke arah mereka dan menganggukkan kepala. Dia duduk di bangkunya di baris sebelah Fuyuno.

“Pagi, Fuyuno-chan, Hinata-san, dan..err…Yuu-kun?”, Uruha menyeringai melihat Yuu yang sudah menempel jadi satu dengan mejanya.

“Pagi”, jawab Hinata dan Fuyuno bersamaan.

“Ne, Uruha-kun, apa kau sudah dengar berita hari ini??? Kabarnya Matsumoto..eerrr..Ruki-kun sudah kembali”, seru Fuyuno dengan wajah sok serius.

Uruha mengangkat alis. Dia diam sejenak.

“Iya, benar. Aku bertemu dengannya tadi pagi”, ucap Uruha seraya tersenyum kalem.

Fuyuno mengangkat alis.

“Oh, jadi berita itu benar??? Jadi kau yang bertemu dengannya???”, seru Fuyuno. Matanya sudah sebesar piring.

“Apa yang telah terjadi padanya?”, mendadak Hinata menyahut.

Uruha baru saja hendak membuka mulutnya untuk menjawab.

Namun mendadak seisi kelas menjadi hening mencekam. Uruha, Fuyuno, dan Hinata yang heran kemudian menatap ke sekeliling mereka, mencari tahu apa gerangan yang membuat suasana kelas jadi hening.

Dan mahasiswa yang dipanggil Ruki oleh Uruha itu pun melangkah pelan menuju bangkunya. Dia seolah tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Tak peduli dengan tatapan seisi kelas yang memandangnya dengan ketakutan ataupun benci. Setidaknya, ada beberapa dari mereka yang bersikap biasa saja, siapa lagi kalau bukan Uruha, Hinata, dan Fuyuno.

“Pagi, Ruki-kun!!!”, mendadak keheningan kelas terpecahkan oleh suara melengking Fuyuno yang dengan cerianya menyapa pemuda itu.

Kontan seisi kelas menatap ke arah gadis itu, tak terkecuali Ruki.

Uruha tersenyum padanya, sementara Hinata hanya bersikap acuh.

Ruki hanya menatap mereka sekilas, namun dengan sorot mata hangat hingga kemudian dia duduk di kursinya dalam dia.

Tak berapa lama, dosen mereka masuk dan kuliah hari itu dimulai dengan suasana hening.

Bullshit

Commit suicide in with-it-ness

Right now…

In front of me!

(13 Stairs-The GazettE)

Saat istirahat tiba.

Tak ada seorang mahasiswa pun yang sudi dekat-dekat dengan Matsumoto Takanori atau yang lebih dikenal dengan nama Ruki. Sejak lama dia memang dikenal aneh di mata orang lain. Selalu berpakaian serba hitam, sangat pendiam, penyendiri, datar tanpa ekspresi, seolah tenggelam dalam dunianya sendiri yang suram. Selain itu, banyak tersebar gossip yang aneh-aneh tentang dirinya, mulai dari pengikut aliran setan, pengguna narkoba, punya kelainan jiwa, hingga diduga sering melakukan percobaan bunuh diri. Tak ada seorang pun yang menyukainya.

Tak ada…

Kecuali,

“Ne, Ruki-kun…Genki desuka???”, sapa Uruha kalem pada cowok yang tengah tenggelam dalam lamunannya, memandang kosong ke luar jendela kelas.

Ruki tertegun. Dia menatap Uruha dengan tatapan bertanya. Uruha hanya tersenyum dan duduk di kursi di depan bangku Ruki.

“Hisashiburi dana?”, ucap Uruha lagi dengan ramah. Ruki hanya diam dan memandangi Uruha penuh arti.

Kemudian Ruki menganggukkan kepalanya pelan. Uruha tersenyum makin lebar.

“Syukurlah kau sudah masuk kembali. Senang bisa melihatmu lagi”, ucap Uruha dengan nada ceria.

“Uruha-kuuuuuuuuuunnn!!!!!!”, mendadak Fuyuno menyela pembicaraan mereka dengan suara cemprengnya, berlari kecil menghampiri Uruha. Kontan Uruha dan Ruki menatapnya.

“Oh, hai, Ruki-kun!!!! Apa kabar???”, seru Fuyuno begitu melihat sosok Ruki di sana. Uruha tersenyum padanya, sementara Ruki hanya menatapnya dalam diam dan mengangguk.

“Ada apa Fuyuno-chan???”, tanya Uruha.

“Kau tidak mau makan siang dengan kami?? Hinata-chan dan Yuu-kun sudah menunggu di kafe”, seru Fuyuno berapi-api. Uruha menatap Ruki sekilas.

“Kau mau ikut, Ruki-kun???”, tanya Uruha ramah. Fuyuno mengangkat alis.

“Oh, iya betul, betul, betul!!! Ayo, ikut Ruki-kun!!!! Lebih ramai lebih asyik!!!”, cetus Fuyuno bersemangat seraya mengacungkan jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya seperti artis iklan-iklan di televisi.

Ruki diam sejenak.

“Tidak, terima kasih”, gumamnya singkat. Uruha mengangkat alis. Setelah sepanjang hari itu, akhirnya Ruki mau bicara juga. Fuyuno tampak kecewa.

“Ah, kenapa??? Bukankah menyenangkan bisa makan siang bersama-sama??”, ratapnya sedih. Uruha meraih tangan Fuyuno. Fuyuno tertegun, dia menatap Uruha dan cowok berkacamata hitam itu balas menatapnya dengan memberi isyarat.

“Sudah, tidak apa-apa. Lain kali saja, masih banyak waktu. Sebaiknya kita segera ke kafe kalau tidak Hinata-san bisa ngomel-ngomel lagi”, ucap Uruha kalem. Fuyuno diam sejenak, kemudian cemberut.

“Baiklah, kami tinggal dulu Ruki-kun, sampai nanti”, ucap Uruha kalem seraya menepuk pundak Ruki.

“Sampai nanti Ruki-kun. Ingat ya, lain kali kita makan bersama!!!!”, pekik Fuyuno bersemangat seraya mengikuti langkah Uruha.

Sebelum sempat pergi, Uruha menoleh kembali ke arah Ruki, menatapnya dan tersenyum hangat. Ruki hanya menganggukkan kepala.

Setelah Uruha dan Fuyuno menghilang dari pandangannya, Ruki menghela napas panjang dan membenamkan tubuhnya makin jauh ke sandaran kursinya. Dia memandangi langit-langit kelas dengan tatapan kosong.

Dari semua orang yang berusaha menjauhinya, hanya Uruha dkk yang sudi mengajaknya bicara. Dan walaupun hanya diam, Ruki menghargai mereka.

“Mereka hanya berpura-pura baik padamu”, mendadak sebuah suara laki-laki memenuhi pikirannya. Ruki mengerutkan keningnya dan mendesis kesal.

‘Dia’ lagi, umpatnya dalam hati.

“Shut up!!! They’re not!!!”, bisik Ruki pada seseorang yang bahkan tak wujud keberadaannya di sekitarnya.

“Hahahahaha…You’re so stupid and so naïve, Takanori. You’re too blind. You’re not be able think that they’re just bullying you”, ejek suara itu lagi.

Ruki mendesis keras, dia memejamkan matanya erat-erat, berusaha mengusir suara itu dari kepalanya.

“I said shut up…”, geram Ruki dengan penekanan dalam nadanya. Kepalanya terasa sangat sakit.

“Hahahahaha…”, lengkingan suara tawa lagi. Dada Ruki mulai tersengal, keringat ingin mengalir.

“Please…”, rintih Ruki memohon dengan putus asa agar suara itu, seseorang yang bahkan tak eksis keberadaannya, untuk segera lenyap meninggalkannya sendirian. Dia sudah sangat lelah, amat sangat lelah dan tak yakin bisa bertahan dalam hitungan satu dua hari lagi.

“You are mine, Takanori…you are mine…”, ucap suara itu lagi dengan nada penuh kemenangan.

Air mata Ruki pun meleleh. Seberapa kuat pun usahanya untuk melenyapkan suara-suara itu, dia selalu kalah.

——— ## ———

Kafetaria Gaea University.

Hinata, Yuu, Fuyuno, dan Uruha tengah asyik menikmati makan siang mereka.

Saat ketiga temannya yang lain tenggelam dalam obrolan mereka, pikiran Uruha melayang pada hal yang lain. Tanpa disadarinya wajahnya tampak menegang.

“Uruha-kun? Ada apa?”, Fuyuno yang menangkap raut wajah Uruha yang tampak aneh menjadi cemas.

Namun, Uruha tak meresponnya. Mau tak mau Hinata dan Yuu pun ikut-ikutan cemas.

“Uruha???”, kali ini Hinata yang memanggilnya.

“Ne, Uru???”, seru Yuu.

“URUHA-KUN!!!!”, teriak Fuyuno seraya mengguncang bahu Uruha. Kontan hal ini tak hanya membuat Uruha tersentak, seisi kafetaria pun menatap mereka dengan tatapan bertanya. Hinata memutar bola matanya.

“A..ada apa??? Ah, maaf!!!”, ujar Uruha kaget.

“Uru, you’re fucking out of mind. And we’re curious about what the hell’s going on with you”, ujar Yuu dengan nada sedikit kesal. Uruha mengangkat alis tinggi-tinggi. Fuyuno menatapnya dengan wajah yang amat sangat cemas. Sementara itu Hinata memukul tengkuk Yuu keras-keras.

“Aww!!! Apa-apaan sih???”, pekik Yuu marah seraya mengusap-usap tengkuknya yang nyeri.

Uruha jadi merasa tak enak hati.

“Maaf, teman-teman. Aku.. aku hanya sedang memikirkan rekruitmen Klub Panahan”, Uruha berbohong seraya menyeringai. Ketiga pasang mata temannya menatapnya tak percaya.

“Apa aku pernah bilang kalau di antara kita yang paling menyedihkan berbohongnya nomor satu adalah Fuyuno dan nomor dua adalah kau???”, sindir Hinata.

“Iya benar!!! Eh??? Kau bilang apa, Hinata-chan???”, seru Fuyuno shock. Yuu terkekeh.

Uruha mau tak mau tersenyum tipis mendengarnya.

“Iya, kau benar Hinata-san. Ada yang sedang mengganggu pikiranku”, ujar Uruha kalem.

Semua diam menatapnya.

“Apa itu ada hubungannya dengan Matsumoto???”, tanya Hinata dengan nada santai seraya melahap omeletnya. Uruha mengangkat alis.

Dia selalu dibuat kagum dengan intuisi Hinata yang sangat tajam.

Uruha menghela napas dan menggosok dahinya, tampak lelah.

“Iya, kau benar”, ucap Uruha.

“Matsumoto??? Matsumoto siapa???”, tanya Yuu bingung. Hinata memutar bola mata.

“Matsumoto Takanori, Bodoh!!!”, bentak Hinata.

“Kenapa dengan Ruki-kun?”, tanya Fuyuno.

“Apa??? Matsumoto Takanori??? Si Ruki itu??? Memangnya dia muncul lagi ya???”, tanya Yuu kaget. Hinata menahan keinginannya untuk memukul kepala Yuu dengan baki.

“Ya, Shirota Yuu-san, Matsumoto Takanori, atau yang lebih kau kenal dengan nama Ruki itu, hari ini masuk kembali. Sayang sekali kau melewatkannya dengan membuat pulau air liur di bangkumu”, jawab Hinata dengan nada sarkastik. Tangannya terlipat di depan dada. Wajah Yuu yang mulanya kaget berubah menjadi tegang, dia mendelik pada Hinata.

“Apa kau bila..”

“Jadi, apa yang kau pikirkan tentangnya???”, Hinata pura-pura tak peduli pada Yuu dan mengalihkan perhatiannya kembali pada Uruha

Uruha diam sejenak.

“Sebenarnya tadi aku sempat menyentuhnya. Dan ini membuatku bingung”, gumam Uruha dengan wajah serius.

“Oh, ayolah Uru, kenapa kau selalu mengatakan sesuatu sepotong-sepotong???”, desak Yuu. Hinata akhirnya memukulnya dengan baki.

“Bisakah kau menunggunya sampai selesai bicara??”, desis Hinata kesal. Yuu hanya memonyongkan bibir dan mendelik padanya. Tangannya mengusap-usap kepalanya yang benjol.

“Seharusnya orang yang kusentuh bisa kulihat masa lalunya, semua ingatannya, kenangannya. Tapi, saat aku menyentuh Ruki-kun tadi, aku sama sekali tak bisa melihat apapun. Semuanya gelap, seperti ada yang menghalangi. Aku jadi cemas karena itu. Seingatku, sebelum Ruki-kun absen lama kemarin, aku bisa melihat masa lalunya dengan mudah kok. Kalaupun ada orang yang terblokir kenangannya, biasanya karena ada yang memasuki pikirannya”, jelas Uruha. Wajahnya tampak termangu.

Hinata, Yuu, dan Fuyuno terdiam, mendengarnya baik-baik.

“Apa mungkin…Black Sorrow??”, ucap Hinata, keningnya berkerut.

“Mungkin saja”, Yuu menimpali seraya menggaruk dagunya.

“Ta..tapi, bukankah selama ini kita tahu bahwa Black Sorrow selalu menyerang manusia secara langsung??? Mereka mengubah manusia menjadi seperti mereka ataupun mereka mengubah diri menyerupai manusia!!!Hyde-san dan Julia-san juga berkata begitu. Tapi, kenapa malah merasukinya??? Apa kalian yakin ini ulah Black Sorrow???”, seru Fuyuno panik. Hinata mendelik padanya seraya memberi isyarat untuk diam.

Fuyuno hanya cemberut.

“Entahlah. Kita juga masih belum pasti ‘kan?”, ujar Yuu.

“Kita harus mengawasi Matsumoto. Kita berkumpul di markas malam ini dan membicarakannya dengan Hyde-san dan Julia-san. Mereka tahu apa yang harus dilakukan”, kata Hinata dengan nada serius. Uruha mengangkat alis.

“Mengawasi??? Kenapa kita harus mengawasi Ruki-kun??? Apa kau segitu tak percayanya pada Ruki-kun?? Dia ‘kan orang baik??!!”, pekik Fuyuno. Hinata melempar pandangan marah padanya.

Sementara Uruha menoleh ke arah Fuyuno dan menatapnya dengan tatapan shock.

Bagaimana dia bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya???

“Aku tak pernah bilang dia orang jahat atau apa. Pelankan sedikit suaramu!!!”, desis Hinata kesal.

“Lagipula kita melakukannya demi dia juga. Kalau terjadi sesuatu padanya, kita bisa menyelamatkannya lebih awal. Uruha, perhatikan dia terus. Kekuatanmu yang paling sensitif dan efektif di antara kita”, tegas Hinata.

Uruha hendak protes, tapi dia hanya menghela napas pelan.

“Akan kucoba”, gumamnya walaupun dalam hati dia tak suka dengan cara ini.

——— ## ———

Kantor 2SO2G.

Julia membanting setumpuk dokumen di atas meja kerja Hyde, membuat pria tampan itu mengerutkan kening ke arahnya.

“Apa-apan ini?? Apa tidak bisa lebih sopan sedikit??? Ingat, aku manajer di sini??”, gerutu Hyde seraya meraih sebuah dari dokumen-dokumen itu.

Julia memutar bola matanya.

“Dan sudah lebih dari empat tahun kita membasmi monster bersama. Dan kita pernah merasakan berada di kelas yang sama saat kuliah. Dan ayahmu teman SMA ayahku. Dan…”

“Ya, ya, cukup!!!”, pekik Hyde kesal.

Julia menyeringai penuh kemenangan.

Hyde menghela napas, berusaha menenangkan hatinya.

“Jadi, apa ini???”, tanya Hyde seraya membuka-buka halaman dokumen itu. Keningnya berkerut saat melihat foto-foto yang ada di sana.

Foto-foto mayat yang tewas mengenaskan.

“Black Sorrow??? Di mana ini???”, tanya Hyde.

Julia melipat kedua lengannya di depan dada.

“Awalnya aku juga berpikir begitu”, ucap Julia. Hyde menengadahkan kepalanya ke arah wanita cantik yang menjadi asisten pribadinya itu.

“Maksudmu???”, tanya Hyde lagi.

Julia menghela napas.

“Coba perhatikan foto-foto itu lebih teliti. Ada yang aneh dengan mayat-mayat itu jika pelakunya memang Black Sorrow. Tidak ada lambang kegelapan yang tertinggal di tubuh mayat-mayat itu. Selain itu, Black Sorrow tidak meninggalkan bekas luka pada tubuh korbannya karena mereka hanya menyerap jiwanya yang artinya jenazah tubuh korbannya akan mengerut. Sedangkan mayat-mayat ini, aku yakin, mereka hanyalah korban pembunuhan”, jelas Julia panjang lebar.

Hyde mengangguk-anggukkan kepalanya, mencermati setiap foto yang ada di sana.

“Lalu, kenapa kau membawa masalah ini ke kantor kita??? Bukankah sudah jelas kasus yang kita kerjakan hanyalah yang berhubungan dengan Black Sorrow dan semacamnya?? Kalau hanya pembunuhan, serahkan saja kepada polisi”, ujar Hyde.

Julia tertawa sinis.

“`Kenapa` katamu??? Apa kau segitu tak punya hatinya???”, tukas Julia tak percaya. Hyde mengacuhkannya.

Julia menghela napas dan memutar bola matanya.

“Oh, ya ampun, kenapa aku harus bekerja dengan orang tak berperasaan macam dirimu??? Baiklah…Begini, masalahnya adalah, mereka korban pembunuhan berantai. Dan kau tahu apa lagi??? Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa Gaea. Aku mendapatkannya dari salah seorang temanku yang mengajar di sana. Dan ini adalah dokumen rahasia milik universitas itu. Temanku minta tolong padaku untuk mempelajari dan menghentikan kasusnya karena polisi sampai sekarang masih belum bisa menyelesaikan masalahnya bahkan mereka hampir menutup kasus ini karena terlalu rumit. Dan apa aku bilang `Gaea` tadi??? Ya, adik-adik kecil kita tersayang kuliah di tempat itu. Sungguh lucu rasanya bila agen rahasia seperti mereka tak mengetahui kasus pembunuhan yang bahkan sudah lama terjadi di tempat mereka menuntut ilmu setiap hari namun tak tahu apa-apa. Aku berani bersumpah Hinata akan mengobrak-abrik tempat ini seperti orang gila nanti”, seloroh Julia dengan nada sarkastik.

Hyde mengangkat alis.

“Gaea??? Benarkah itu???”, gumam Hyde kaget.

“Aku tak berani berbohong dalam kasus serius seperti ini”, gerutu Julia.

Hyde merebahkan punggungnya ke sandaran kursinya. Tangannya terlipat di depan dada.

“Sepulang kuliah, panggil anak-anak itu”, ucap Hyde dengan nada serius.

Lantas terdengar dering telepon dari tas Julia. Setelah mengambil handphone dan membaca nama di layarnya, wanita itu menyeringai.

“Heh, kurasa insting mereka memang tajam”, ujar Julia seraya menatap Hyde dengan tatapan mengejek. Hyde hanya mendengus.

“Ya, Hinata-chan…”, sapa Julia pada orang yang meneleponnya.

——— ## ———

“Aku mohon, jangan paksa aku melakukannya lagi..”, desis Ruki memohon.

Saat itu dia tengah berada di toilet di ujung lorong kelasnya yang sudah sepi.

Dia menatap refleksi wajahnya lewat cermin yang menggantung di hadapannya. Wajahnya tampak pucat. Keringat dingin mengaliri pelipisnya. Bibirnya gemetar. Kantung hitam di bawah matanya tampak tebal.

Singkatnya, dia benar-benar tampak kacau.

“Kau tak bisa berbuat apa-apa untuk mengalahkanku, Takanori. Kau lemah. Kau kalah. Kau milikku. Hahahahahaha….”, suara tawa melengking memenuhi kepalanya, membuat telinganya berdenging.

Ruki mencengkeram pinggiran wastafel erat-erat, menahan tubuhnya yang nyaris limbung karena lututnya mulai goyah.

“Aku mohon…”, ratap Ruki lirih, nyaris tak terdengar bahkan di telinganya sendiri.

Suara tawa itu makin keras.

Dan semua menjadi hitam di mata Ruki.

Petang itu di kantor 2SO2G.

Hinata, Yuu, Uruha, dan Fuyuno menatap foto-foto yang ada di dokumen yang diberikan Julia-san dengan tatapan shock.

“A..apa..Apa-apaan ini???”, ucap Hinata tak percaya.

Hyde melirik Julia yang berdiri di sisinya. Julia berusaha keras untuk menyembunyikan seringainya.

“Apa yang kubilang tentang ‘Hinata akan mengobrak-abrik tempat ini seperti orang gila’???”, batin Julia.

“Julia baru saja mendapat informasi dari salah seorang dosen kalian bahwa selama ini telah terjadi pembunuhan berantai di sekitar kampus kalian. Mereka sengaja menyembunyikannya karena mengkhawatirkan reputasi kampus dan meminta bantuan polisi untuk menyelesaikan kasus ini. sayangnya mereka tak bisa dan pembunuhnya masih terus berkeliaran. Dan karena itulah, Julia dan..ehem..aku, memutuskan untuk mengangkat kasus ini sebagai pekerjaan kalian kali ini mengingat kasus ini terjadi di kampus kalian dan bisa saja membahayakan jiwa kalian. Apa kalian paham???”, kata Hyde dengan nada dan wajah serius.

Keempat pemuda itu hanya terdiam sambil masih terus memelototi foto-foto di tangan mereka. Terlalu shock untuk berkata-kata.

“Shit…”, gumam Yuu lirih.

“What the f**k is this shit??? Kalian tahu ada pembunuhan berantai yang telah menyebabkan korban banyak di kampus kami tapi tak mengatakan apa-apa pada kami dan membiarkan kami sibuk dengan urusan sampah macam Black Sorrow???!!”, teriak Yuu marah seraya bangkit dari sofa dan membanting foto-foto yang ada di genggamannya.

Hyde mengerutkan kening. Julia mengangkat alis.

“Perhatikan ucapanmu, Yuu-kun!!! Black Sorrow adalah masalah yang lebih rumit daripada pembunuhan ini. Karena hanya orang-orang seperti kalian-lah yang mampu mengalahkan mereka”, tukas Hyde tajam.

“Pembunuh ini melenyapkan nyawa teman-teman kami”, desis Yuu di sela gemeretak giginya.

“Black Sorrow melenyapkan nyawa lebih dari teman-teman kalian”, balas Hyde tak kalah tajam.

“Hyde-san!!!”, pekik Yuu.

“Baiklah kami mengerti Hyde-san!!!”, mendadak Hinata menyela Yuu dan menengahi perdebatan antara cowok itu dengan Hyde. Semua mata tertuju padanya dengan tatapan bertanya.

“Kami akan berusaha menyelesaikan masalah itu. Untuk sementara kita singkirkan dulu pembicaraan ini karena ada yang ingin kami katakan pada kalian berdua, Hyde-san, Julia-san”, ujar Hinata dengan nada serius dan tegas.

“Oi..”, Yuu berniat protes, namun Hinata kembali menyelanya.

“Uruha, ceritakan pada mereka apa yang kau alami di kampus tadi”, seru Hinata.

Yuu diam seketika. Uruha mengangkat alis. Untuk beberapa saat dia tampak bingung. Hinata menoleh ke arahnya.

“Uruha, bukankah kau ingin bertanya mengenai masalah Takanori???”, ujar Hinata lagi.

“Ah..i..iya, benar..”, jawab Uruha buru-buru.

“Ada apa Uruha-kun??? Dan siapakah Takanori ini???”, tanya Hyde. Kini semua pandangan tertuju pada Uruha dan hal itu membuatnya sedikit gugup.

“Err…Sebenarnya begini…”

Hyde menghela napas panjang-panjang. Dia membenamkan kepalanya di sandaran kursinya. Sesekali dia memijit dahinya. Wajahnya tampak lelah.

“What on earth are we facing about???”, gumamnya.

Julia yang tengah memandang keluar jendela yang ada di belakang kursi Hyde tampak termangu.

“Aku yakin ini semua berhubungan”, ucap Julia kalem. Dalam kepalanya berusaha menghubungkan kasus satu dengan yang lainnya.

“Yah..Tapi apa??”, tanya Hyde.

“Entahlah. Yang jelas anak-anak itu dalam masalah besar. Kita harus turun tangan langsung untuk membantu mereka, Hideto”, gumam Julia.

“Don’t call me like that. I hate it when the others call me Hideto”, ujar Hyde dingin.

“Oh, `the others`…except The President, huh?? How sweet…”, sindir Julia. Hyde menatapnya tajam.

“None of your business”, cetus Hyde.

Julia hanya mendengus.

——— ## ———

Sepanjang perjalanan pulang, Uruha hanya melamun sembari menatap kosong ke arah luar jendela mobilnya.

“Tuan Muda, apa ada yang sedang Anda pikirkan???”, tanya Tetsu-san lembut, membuat Uruha tersadar dari lamunannya.

“Ah..iya, Tetsu-san???”

Tetsu-san tersenyum.

“Anda melamun. Saya pikir, ada yang sedang mengganggu pikiran Anda”, ucap Tetsu-san kalem.

Uruha terdiam sejenak.

Ya, memang ada yang sedang kupikirkan. Batinnya sedih.

“Ah, tidak ada Tetsu-san. Aku tak apa-apa, hanya sedikit lelah. Maaf sudah membuatmu cemas”, jawab Uruha berbohong. Tetsu-san mengangkat alis. Dia menyadari bahwa majikannya ini telah berbohong. Dia mengenal Uruha sejak kecil dan sudah hafal dengan sifat dan kebiasaannya. Namun, dia tak berniat mencampuri urusan pribadi pemuda itu. Jika dia berkata “tidak”, berarti Tetsu-san tak boleh menanyainya lebih jauh, kecuali Uruha datang padanya dan minta nasihat.

“Kalau begitu sesampai di rumah nanti Anda sebaiknya cepat tidur”, saran Tetsu-san ramah.

Uruha tersenyum kecil.

“Yah..kurasa begitu”, ujarnya.

Dalam kepalanya, masalah mengenai Ruki dan pembunuhan berantai itu terus berkelebat. Hal ini membuatnya sangat kalut dan cemas.

Fuyuno menyusuri jalan menuju apartemennya dengan hati gundah. Dalam hati dia mencemaskan teman-temannya.

Dia sama sekali tak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi.

Fuyuno menghela napas lelah. Tinggal beberapa blok lagi hingga sampai ke apartemen tempatnya tinggal.

“Jadi kau yang bernama Fuyuno, ya???”, tiba-tiba sebuah suara menyapanya. Fuyuno membeku.

Dia buru-buru menoleh ke arah suara itu dengan perasaan takut.

Dilihatnya seorang pemuda tampan dengan coat hitam, celana jeans hitam, berambut hitam panjang serta bermata runcing, berdiri di depan matanya, tersenyum ramah. Namun, entah kenapa ada perasaan dingin yang aneh yang menyelimuti aura pemuda itu yang membuat Fuyuno dicekam rasa ketakutan.

“Si..siapa kau??? Darimana kau mengenal namaku???”, pekik Fuyuno.

Pemuda itu menyeringai. Dia melangkah pelahan, mendekat ke arah Fuyuno, membuat Fuyuno secara tak sadar mundur perlahan.

“Ja..jangan mendekat!!! Kumohon…”, desis Fuyuno.

Saat Fuyuno memutuskan untuk memutar langkahnya dan berlari, mendadak pemuda misterius itu muncul di hadapannya, sebelah tangannya memegangi pinggang Fuyuno kuat-kuat dan sebelah lainnya membekap mulutnya. Dia menyeringai, menunjukkan gigi taringnya yang runcing dan panjang, matanya yang semula hitam, berubah merah dan berkilat.

Fuyuno terbelalak shock bercampur ketakutan. Dia ingin berteriak, namun mulutnya dibekap sehingga dia hanya bisa mengeluarkan erangan.

Waktu seakan berputar amat sangat lambat bagi Fuyuno.

“I’m Aoi. Nice to meet you, Sweetie…”, ucap pemuda misterius itu dengan nada sensual dan lembut.

Sejurus kemudian, dunia seolah berputar sangat cepat di mata Fuyuno. Selanjutnya, semua menggelap.

——— ## ———

Hinata terkesiap.

Yuu mengerutkan keningnya.

“Oi, kenapa mendadak berhenti???”, tanya dia separuh heran, separuh cemas. Hinata tetap diam di sana. Wajahnya tampak kosong dan Yuu benar-benar panik sekarang.

“Hinata!!! Oi, kau kenapa??? Hina…”

Hinata mengusap-usap tengkuknya dan menoleh ke belakangnya.

Yuu menghembus napas lega.

“Kau kenapa??? Kenapa mendadak belagak seperti orang tersambar petir saja??? Bikin jantungku mau copot saja…”, gerutu Yuu seraya mengusap-usap dadanya

“Maaf…Entahlah..tiba-tiba saja, perasaanku sangat tidak enak”, gumam Hinata.

Yuu memutar bola mata.

“Kau dan instingmu yang membuatku geleng-geleng kepala…”, seloroh Yuu kesal. Dia mulai melangkah kembali, meninggalkan Hinata di tempatnya berdiri.

Hinata tertegun.

“Tunggu!!! Yuu!!!”, pekik Hinata seraya berlari kecil menyusulnya. Yuu berhenti. Dia kembali memutar bola matanya.

“Yeah..Now what???”, seru Yuu.

“Bisakah kita ke apartemen Fuyuno??? Aku merasa ada sesuatu yang terjadi padanya”, ujar Hinata dengan wajah cemas.

“Hinata…”, desah Yuu.

“Kumohon…”, desak Hinata dengan wajah mengiba.

Dan sekali lagi, Yuu paling lemah pada gadis ini.

“Baiklah”

——— ## ———

Uruha membuka matanya perlahan.

Sebelah tangannya yang menggenggam jemari tangan gadis itu perlahan terurai. Dia kembali meletakkan tangannya di atas ranjang.

Uruha menghela napas panjang. Dia menatapi tubuh mungil yang terbaring lunglai di atas ranjang rumah sakit.

“Fuyuno…”, bisik Uruha sedih.

“FUYUNO!!!”, mendadak pintu ruangan tersebut terbuka dan menimbulkan suara berdebam. Uruha serta merta menoleh ke arah pintu.

“Hinata-san..Yuu-kun..”, desis Uruha kaget. Hinata berlari ke arah ranjang tempat Fuyuno terbaring.

Matanya terbelalak shock.

“Ada apa dengannya???”, gumam Hinata, berusaha keras menahan emosinya yang nyaris meledak. Yuu menyusul di sisinya. Wajahnya tak kalah kaget.

“Kami ke sini setelah pergi ke apartemennya dan mendapat informasi dari tetangga sebelahnya. Aku tahu sesuatu terjadi padanya, aku merasakannya tadi. Ada apa dengannya, Uruha??? Apakah Black Sorrow???”, desak Hinata di sela engahnya.

Untuk beberapa saat Uruha hanya terdiam. Matanya menatap kosong ke arah wajah pucat Fuyuno.

“Ingatannya ada yang menghilang”, gumam Uruha tak jelas. Fuyuno mengangkat alis.

“Apa??? Kau bilang apa Uruha???”, desis Hinata tak dengar.

“Ada yang menghapus ingatannya beberapa waktu sebelum aku menemukannya pingsan di jalan tadi”, ulang Uruha, masih dengan nada datar

“Uru…”, desis Yuu cemas.

Mendadak Uruha bangkit dari kursinya. Matanya masih tertuju pada wajah Fuyuno.

“Aku titip dia sebentar. Ada yang harus kulakukan”, gumam Uruha.

“Uruha?? Kau mau kemana???”, tanya Hinata makin bingung.

Namun, Uruha sudah sampai di pintu ruangan.

“Uru!!!”, pekik Yuu seraya berusaha mengejarnya. Namun, Uruha lebih cepat, dan dia sudah menghilang di koridor lantai ruangan itu.

Yuu menghela napas panjang.

“Shit!!! What the hell’s going on here???”, gumam Yuu frustasi.

——— ## ———

Pusat kota Tokyo malam itu.

Cahaya lampu gedung-gedung, menara, kendaraan gemerlapan. Merah, kuning, hijau, membuat siluet prisma-prisma yang menyilaukan.

Malam Tokyo tak pernah tidur.

Orang-orang terus berlalu lalang. Tanpa peduli bahwa hari telah berganti esok.

“Membosankan”, gumamnya seraya menjatuhkan tubuh yang telah tak bernyawa di tangannya itu ke tanah bagaikan barang tak berguna.

Lantas dia mengusap ujung bibirnya yang berlumuran darah dan menjilati bibirnya.

“Menjijikkan”, gumamnya lagi seraya merogoh saku celana jeansnya dan mengambil sebungkus rokok di sana.

Dia menyelipkan sebatang rokok ke sela bibirnya dan menyalakannya.

Lantas menyandarkan tubuhnya ke dinding di belakangnya dan menatap keramaian kota yang ada di bawah sana.

Saat itu dia tengah berada di atap sebuah gedung pencakar langit.

Dia menghembuskan asap rokoknya perlahan. Rasa nikotin memenuhi seluruh syarafnya, membuatnya merasa tenang.

Angin berhembus kencang, membuat rambut hitamnya yang tampak berkilauan karena sinar rembulan, berkibar.

“Sudah kuduga kau ada di sini”, sapa sebuah suara.

Dia menyeringai dan menegakkan tubuhnya.

“Oh, aku juga sudah menduga kau akan menemukanku di sini”, balasnya santai.

Dia tertawa mengejek.

“Ne, Uruha-kun. Bagaimana keadaannya??? Apa dia sudah sadar???”, dia bertanya seraya terkekeh.

Serta merta tangan Uruha terkepal kuat-kuat dan dia menggeretakkan giginya.

“BRENGSEK KAU!!!!”, teriak Uruha seraya mengarahkan tinjunya ke wajah Aoi. Namun, Aoi bergerak sangat cepat. Dia berhasil menghindar dari serangannya.

Uruha memutar tubuhnya ke arah Aoi yang kini ada di belakangnya.

Aoi menyeringai sombong. Di sela jarinya terselip rokoknya. Dan seolah merasa tak terintimidasi, dia mengisap rokoknya kembali.

Amarah Uruha makin memuncak. Dia menyiapkan busur panahnya, meraih sebatang anak panah, lantas mengarahkannya kepada Aoi. Tangannya gemetar karena emosinya. Hal ini membuat Aoi menyeringai makin lebar.

“Kau gemetar. Mana mungkin kau bisa membidikku dengan tangan seperti itu???”, ejek Aoi.

Uruha menggeretakkan giginya. Matanya menyipit dan berkilat berbahaya.

Cahaya bulan makin memperjelas aura Uruha yang berkobar.

“Apa yang telah kau lakukan padanya???”, ucap Uruha di antara giginya yang merapat. Aoi menghembuskan asap rokok terakhirnya dan membuang rokok yang telah habis ke lantai.

“Apa yang telah kulakukan??? Hmm…Kurasa…kau pun sudah tahu. Kau bisa membaca ingatan, kan???”, ucap Aoi santai.

“Kau menghapus ingatannya”, desis Uruha dengan nada benci. Aoi tertawa.

“Penjahat selalu menghilangkan jejaknya, kan???”, sahut Aoi setengah bercanda. Uruha menarik tali busurnya makin jauh seolah ingin mengancam Aoi. Namun, Aoi tetap berdiri di sana dengan tenang.

“Katakan padaku, apa kau telah membuatnya terinfeksi???”, tanya Uruha getir. Aoi mengangkat sebelah alisnya.

“Oh, ayolah Uruha-kun, kupikir kau tidak sebodoh itu. Apa kau melihat bekas gigitanku di lehernya???”, desah Aoi. Uruha hanya diam dan mengawasinya dengan tatapan mengancam dan busur tertuju padanya.

Aoi menghela napas.

“Baik, baik. Aku tidak melakukannya. Setidaknya…belum saatnya. Tentu saja aku merencanakan untuk menjadikannya sebagai anak buahku suatu saat nanti. Dia sangat manis, pantas saja kau ingin memilikinya. Aku jadi iri. Tapi, kalau kulakukan itu sekarang, pasti tidak akan seru karena aku jadi tidak bisa bermain-main lebih lama denganmu”, celoteh Aoi seraya terkekeh.

Uruha berdecak marah.

“Kuperingatkan kau, kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi kalau kau berani menyentuhnya barang seujung jaripun!!!!”, geram Uruha seraya melepaskan anak panahnya ke arah Aoi.

Sekali lagi Aoi berhasil menghindar.

Namun, Uruha tak main-main, dia mengejar Aoi dan teus melesatkan satu persatu anak panahnya ke arah makhluk bangsa vampire itu.

“Hei, hei, jangan tergesa-gesa begitu dong,Uruha-kun!!! Mana seru???”, protes Aoi seraya terus berusaha menghindar.

“DIAM!!!! MATI KAU!!!”, teriak Uruha seraya melesatkan satu lagi anak panahnya.

Dan lagi-lagi Aoi menghilang.

Uruha mengerutkan kening.

“Ke..ju…tan…”, bisik Aoi yang mendadak berada tepat di belakangnya.

Uruha terbelalak kaget.

Sebelum Uruha sempat berkutik, Aoi sudah mengeluarkan kekuatannya dan menyerang Uruha hingga membuatnya terpental dan menabrak tembok.

Uruha merosot jatuh ke lantai. Dia meringis kesakitan.

“Shit…”, geramnya.

Aoi menyeringai penuh kemenangan. Untuk beberapa saat dia hanya memandangi Uruha yang terduduk lemah di seberangnya.

“Kenapa? Hanya begitu saja kau sudah menyerah??? Mana Uruha yang kukenal dulu??? Apa karena terlalu lama bersama teman-temanmu yang baru itu kau jadi lemah??? Cih, memalukan”, cela Aoi dengan nada dingin.

Uruha menatapnya dengan sorot mata tajam.

Dengan agak sempoyongan dia berusaha bangkit.

Aoi mengangkat alisnya.

“Oh, masih bisa berdiri rupanya. Jangan memaksakan diri. Aku bisa bersikap lembut padamu, kok”, sindir Aoi dengan nada santai.

Mendadak sebuah anak panah telah menancap dalam di lengan kiri Aoi.

Aoi terbelalak.

“Wha…”

“Jangan pernah meremehkanku”, ucap Uruha dengan suara dan wajah yang dingin. Kedua tangannya memegang busur panah yang terarah pada Aoi.

Sejak kapan???, pikir Aoi shock.

“Aku sudah bilang aku tidak akan melepaskanmu lagi. Itu berarti aku serius, Aoi. Aku akan membunuhmu. Kuperingatkan kau untuk tidak menyentuh mereka sedikit pun”, ancam Uruha dengan nada tajam.

Aoi terdiam sejenak. Namun kemudian dia menyeringai.

Dia mencabut anak panah yang tertancap di lengannya lantas menggenggamnya erat-erat hingga patah menjadi dua.

“Let see…Siapa yang akan tertawa pada akhirnya”, ucap Aoi kalem.

Uruha mengambil sebuah anak panah lagi dan bersiap melesatkannya ke arah Aoi.

Aoi pun seolah bersiap untuk menghadapinya.

Saat itulah, mendadak sebuah aura yang mengerikan menyeruak di antara mereka.

Uruha terbelalak. Begitu pun dengan Aoi.

“What the hell…”, umpat Aoi.

“Aoi”, desis Uruha.

“Not me, Dumbass!!!!”, tukas Aoi kasar merasa difitnah.

“Then who???”, tanya Uruha dingin.

“How am I fuckin’ suppose to know???”, seru Aoi kesal.

Aura itu semakin kuat.

Uruha bergegas menuju ke arah aura itu.

“Then I guess this is a goodbye, right? It’s your job, it is not, ‘Hunter’???”, ucap Aoi dengan penekanan pada kata “Hunter” seraya menyeringai lebar. Uruha terbelalak. Separuh tubuh Aoi sudah menghilang.

“Don’t!!! Wait!!!! We even haven’t finished this yet!!!!”, pekik Uruha.

“Jangan khawatir Uruha-kun. Aku tak akan lari darimu. Dan aku tak akan menyerah darimu. Aku pasti akan mengambil semua milikmu. Hahahahahaha….”, Aoi terkekeh. Aura hitam kelam menyelimuti bayangannya yang seolah meleleh.

“AOI!!!”, teriak Uruha panik.

Aoi menyeringai dingin.

“Au revoir partenaire”, ucapnya kalem.

Dan Aoi pun lenyap dari tatapan Uruha.

Untuk beberapa saat Uruha hanya bisa terpaku.

“Shit!!!”, desisnya.

Uruha pun kembali fokus pada aura gelap yang mengusiknya tadi.

“What on earth is this spirit???”, gumam Uruha.

——— ## ———

Sementara itu di rumah sakit.

“…”

Tak ada jawaban.

“F**k!!”, pekik Yuu frustasi seraya membanting handphonenya ke sofa di sudut ruangan.

Hinata yang tengah menunggui Fuyuno di sisi ranjangnya, menoleh dan mendelik ke arahnya.

“Bisakah kau jaga suaramu??? Apa kau tak ingat kalau kita sedang berada di rumah sakit??? Kalau Fuyuno sampai terbangun, kubunuh kau!!!”, desis Hinata keras-keras.

Yuu berdecak marah.

“Apa yang terjadi?”, tanya Hinata pelan.

Yuu menggeretakkan giginya.

“Uru tak mengangkat handphonenya”, geram Yuu kesal.

“Dan aku bisa gila kalau harus menunggu di sini terus seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa”, imbuhnya.

Hinata menghela napas lelah.

“Berhentilah mengeluh. Kita semua sedang frustasi”, ucap Hinata singkat.

Yuu hanya menatapnya dengan tatapan kesal. Sejenak kemudian dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kedua tangannya menyibakkan rambutnya ke belakang.

Dia benar-benar frustasi.

Menunggu Uruha yang mendadak menghilang entah kemana selama hampir empat jam.

Sementara dia dan Hinata membutuhkan penjelasan mengenai apa yang telah terjadi pada Fuyuno.

Yuu menghela napas.

“Bagaimana perkembangannya?? Apa dia baik-baik saja??”, tanya Yuu.

Hinata hanya diam. Dia mengawasi tubuh Fuyuno yang tergeletak lemah di atas ranjangnya.

“Denyut nadinya masih lemah. Sepertinya dia shock berat. Aku tak tahu apa yang telah menyerangnya. Tapi, tak ada bekas luka sama sekali. Entahlah, sepertinya yang menyerangnya tak bermaksud melukainya”, gumam Hinata dengan nada datar.

“Uruha bilang ingatannya ada yang hilang”, desis Yuu sinis.

Hinata diam sebentar.

“Menghilangkan jejak”, gumamnya lagi.

“Apa???”, pekik Yuu tak sabar.

“Dia menghilangkan jejaknya dengan cara menghapus sebagian ingatan Fuyuno saat dia menyerangnya. Jadi kita tak bisa melacak keberadaan orang itu”, jelas Hinata.

Yuu memutar bola mata. Dia merebahkan kepalanya ke atas sandaran sofa.

“Dan Uruha pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa pada kita. Aku makin tak mengerti”, desah Yuu lelah.

Hinata mengernyitkan kening.

“Besar kemungkinan Uruha tahu sesuatu, tapi dia tak mau memberitahu kita”, komentar Hinata.

“Bloody hell”, ucap Yuu sinis.

Kohara Kazamasa, usia 19 tahun. Mahasiswa Fakultas Seni Jurusan Fashion Design. Studio Fashion Design.

Amano Shinji, usia 21 tahun. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Jurusan Neurologi. Laboratorium Biologi.

Wataru Yuuichi, usia 19 tahun. Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin. Laboratorium Mesin.

Uruha menyandarkan tubuhnya ke dinding kelas yang gelap dan hanya diterangi sinar rembulan yang masuk melalui jendela-jendela besar di sepanjang lorong. Tangan kirinya memijit dahinya. Dalam kepalanya terus berputar bayangan ketiga mayat mahasiswa Gaea yang baru saja ditemukannya.

Dia berusaha melacak aura gelap mengerikan yang mengusiknya saat duel dengan Aoi tadi dan aura itu menuntunnya menuju kampusnya tercinta ini. Dan dibuat shock dengan penemuan tiga jenazah mahasiswa yang terbunuh secara mengenaskan di laboratorium masing-masing fakultas.

Uruha sudah berusaha menyelami ingatan jenazah mereka, namun tak ada apapun di sana. Kosong dan gelap.

Dan hal ini membuatnya teringat pada saat dia tak sengaja menyentuh Ruki. Ingatannya kosong.

Uruha dilanda rasa cemas. Entah kenapa masalah satu dengan yang lainnya tampak saling berhubungan namun juga sangat rumit seperti Lingkaran Setan.

Hingga kemudian Uruha dikejutkan dengan sesosok bayangan yang berdiri di atas salah satu gedung Gaea yang tepat berada di seberang gedung tempatnya berada.

Aura mengerikan itu lagi.

Uruha yakin aura itu berasal dari sosok misterius itu. Dia memicingkan matanya, berusaha melihat sosok itu dengan jelas. Cahaya bulan sedikit banyak membantu penglihatannya.

Dan walaupun agak samar, Uruha bisa menangkap orang itu memakai topeng untuk menutupi separuh wajahnya secara vertikal. Seluruh tubuhnya dibungkus dengan jubah hitam dan tudung menutupi kepalanya. Tangan kirinya menggenggam sebuah scythe, semacam sabit raksasa yang biasa dipakai oleh Dewa Kematian dalam mitos-mitos kuno.

Orang itu balas menatap Uruha dengan wajah tanpa ekspresi.

Uruha terbelalak shock.

“Ru..ki..kun???”

Mendadak sosok itu menghilang dari pandangan Uruha yang masih tercengang.

Kabur.

Uruha tertegun. Mendadak dia jadi sangat panik dan bergegas mengejarnya.

“Ini tidak mungkin!!!”, desisnya pada dirinya sendiri.

Dia mempercepat langkahnya.

——— ## ———

Julia menyodorkan sebuah CD kepada Hyde yang tengah mengecek email lewat laptop kesayangannya. Hyde menengadahkan kepala.

“Apa lagi ini?”, tanya Hyde heran. Julia menjatuhkan dirinya di atas kursi tamu di hadapan Hyde.

“Data-data mengenai pemuda bernama Matsumoto Takanori yang diceritakan Uruha-kun tadi. Silakan mengeceknya”, jawab Julia. Wajahnya tampak lelah.

“Oh, gerak cepat, ya??? Kau selalu membuatku kagum”, ucap Hyde setengah memuji. Dalam hati dia terkesan dengan keseriusan wanita ini dalam menyelesaikan suatu kasus.

Julia memutar bola matanya.

“Aku sudah bilang, ‘kan?? Anak-anak itu sedang dalam masalah besar dan kita harus ikut turun tangan”, gerutu Julia.

Hyde menyeringai.

“Kau tak pernah berubah, selalu mencemaskan orang lain”, komentar Hyde santai seraya memasukkan CD tersebut ke dalam CD driver di laptopnya.

“Heh. Dan kau masih tetap seorang pria yang tak berperasaan”, sahut Julia dengan nada sinis.

Dan aku masih tetap mencintaimu

Hyde mendengus, “Aku hanya berusaha mendisiplinkan kalian”.

Julia memutar bola matanya lagi.

Beberapa saat kemudian.

Kening Hyde tampak berkerut. Dia mengulang-ulang foto yang satu dengan yang lainnya.

“Julia, kemarilah!!!”, panggil Hyde dengan nada serius.

Julia yang sedang asyik membaca dokumen-dokumen mengenai kasus-kasus lampau mau tak mau beranjak dari kursinya dan menuju ke sisi Hyde.

“Ada apa?? Apa kau menemukan sesuatu??”, tanya Julia.

Hyde mengangguk.

“Coba lihat ini”, ujar Hyde seraya memberi isyarat dengan kepalanya menuju pada sebuah foto yang terpampang di layar laptopnya. Julia mengernyitkan kening.

“Apa?? Aku tak melihat apapun selain foto Matsumoto ini”, tanya Julia bingung.

Hyde menghela napas.

“Baiklah. Perhatikan tanda yang kubuat ini”, ujar Hyde seraya memperbesar foto dan membuat gambar lingkaran untuk menandai sesuatu pada foto tersebut. Julia mengangkat alis.

“I..itu..bayangan…”, desis Julia kaget.

Hyde mengangguk.

“Jelas ada sesuatu atau lebih tepatnya, sesosok bayangan, yang membayangi Matsumoto dan itu bukanlah bayangannya. foto ini diambil di ruang terbuka, tak ada bangunan apapun di belakang anak ini. Mustahil ada bayangan di belakangnya”, Hyde mencoba menganalisa.

“Mengerikan…La..lalu bayangan apa itu???”, seru Julia.

Hyde beralih dari laptopnya menuju ke dokumen-dokumen yang bertumpuk di atas mejanya. Mencari sesuatu.

“Entahlah, aku tak yakin. Tapi, rasanya aku pernah melihat makhluk seperti ini. Di mana ya…”, gumam Hyde seraya membolak-balik halaman dokumen di tangannya dan melakukan hal yang sama pada dokumen yang lainnya.

Tak dapat menemukan yang dicarinya, Hyde beranjak dari kursinya, menuju perpustakaan pribadinya yang ada di ruang sebelah.

“Kita harus memberitahu anak-anak!”, seru Julia sebelum sempat Hyde menghilang ke perpustakaan.

Hyde memutar tubuhnya dan menatap Julia.

“Sebaiknya jangan dulu. Aku harus memastikannya. Yang akan terluka di antara mereka adalah Uruha. Jadi, sebaiknya hati-hati”, ucap Hyde pelan. Wajahnya tampak termangu.

Julia mengangkat alis. Dia terdiam sejenak.

“Kurasa kau benar”, gumamnya lirih. Air mukanya berubah menjadi muram.

——— ## ———

Uruha terus mempercepat langkahnya. Dia tak ingin kehilangan sosok itu.

Sesosok misterius denga aura mengerikan yang sekilas walaupun secara samar, wajahnya mengingatkannya pada Matsumoto Takanori atau yang lebih akrab dipanggilnya Ruki.

Hingga akhirnya, dia mendapati sosok itu telah berdiri di atap salah satu gedung Gaea beberapa meter di hadapannya.

Uruha menghentikan langkahnya. Dadanya naik turun tak beraturan. Peluhnya bercucuran. Dan dinginnya angin malam menusuk kulit.

Namun, Uruha sama sekali tak peduli akan hal itu. Dia terlalu tegang dengan masalah yang tengah dihadapinya saat ini.

Sosok itu tampak berdiri dengan anggun, tenang, dan tetap memancarkan aura gelapnya di sana. Tampaknya sedang memandangi Uruha namun tak bergerak sama sekali, seperti sebuah patung hidup. Scythe-nya berkilauan diterpa sinar bulan purnama yang keemasan dan jubah hitamnya yang berkibar ditiup angin kencang, menambah keangkeran pada dirinya. Di antara topeng dan tudung yang menutupi wajahnya, sebelah matanya tampak menyorot kosong.

Hati Uruha bergetar karenanya.

“Ruki…Ruki-kun!!! Kau-kah itu???”, teriak Uruha berusaha membuat suaranya mencapai sosok itu.

Namun, sosok itu tetap terpaku.

“Hei, jawablah!!! Kumohon!!! Kalau kau bukan Ruki-kun lalu siapa kau??? Kenapa kau membunuh mereka???”, teriak Uruha sekali lagi dengan frustasi. Kepalanya sangat sakit akibat terlalu banyak masalah yang berputar di sana.

Mendadak sosok itu bergerak.

Dan dalam sekejap mata, dia sudah berada tepat di hadapan Uruha dengan scythe teracung ke arahnya.

Uruha hanya mampu terbelalak.

Lalu, sebelum kepalanya mampu mencerna apa yang terjadi, sosok itu mendadak lenyap.

Untuk beberapa saat Uruha hanya terpaku di sana dengan mata masih terbelalak dan mulut ternganga.

Sejenak kemudian lututnya seolah tak mampu menyangga berat tubuhnya lagi.

Uruha jatuh terduduk ke lantai.

Pikirannya mendadak kosong.

——— ## ———

Yuu menatap menerawang menembus jendela kamar tempat Fuyuno dirawat dengan tatapan kosong. Embun dan titik-titik air memenuhi jendela karena udara dingin yang dihasilkan oleh hujan.

Sementara Hinata masih setia menunggui Fuyuno di sisi ranjangnya walaupun matanya sudah terasa sangat berat untuk terbuka. Dia berkali-kali menguap namun tetap berjuang untuk bangun.

“Sebaiknya kau pulang saja”, ujar Yuu. Dalam hati dia merasa sangat tak tega melihat Hinata seperti itu. Hinata mengusap-usap matanya.

“Hah? Apa?” sahut Hinata yang kesulitan mencerna kata-kata Yuu akibat rasa ngantuknya. Yuu yang semula memendam rasa marahnya mau tak mau tersenyum melihat ekspresi Hinata yang sangat jarang ditunjukkannya itu.

Dia beranjak dari sofa dan menuju ke arah gadis itu. Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata.

“Aku bilang kau pulang saja. Istirahat. Biar aku yang menjaganya”.

Mendadak wajah Hinata merona. Dadanya berdebar kencang. Seketika rasa kantuknya lenyap.

BUAGH!!!

“Adaaawwwhh!!!!!!”, Yuu memekik kesakitan. Hinata yang mendadak tenaganya bangkit, menonjok muka Yuu hingga lebam.

“Apa-apaan, sih??!!! Aku ‘kan hanya berusaha bersikap baik padamu?? Dan yang kudapat adalah sebuah pukulan??? Dasar Bar-Bar!!!!”, omel Yuu seraya membelai kepalanya yang benjol.

“Salah sendiri berbuat yang aneh-aneh”, sahut Hinata datar. Namun, dalam hatinya dia masih berdebar juga.

“Apa, sih..”, gerutu Yuu.

Mendadak terdengar suara pintu terbuka. Serta merta Yuu dan Hinata menoleh ke arah pintu.

Mereka terbelalak secara bersamaan.

“Uruha!!!??”, pekik Hinata kaget sekaligus lega.

BHUAGH!!!!

Hinata kembali dibuat shock.

Mendadak Yuu meninju Uruha hingga cowok itu terjungkal dan jatuh ke lantai.

“Yuu!!! Apa yang kau lakukan!!!??”, jerit Hinata seraya menghambur ke arah mereka.

Yuu yang sedari tadi berusaha memendam amarahnya akibat perbuatan Uruha yang mendadak meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa, kembali meledak emosinya begitu melihat cowok itu menunjukkan batang hidungnya kembali.

Hinata harus bersusah payah menahan Yuu yang bahkan lebih tinggi dan kuat darinya untuk tidak menghajar Uruha lagi.

“F**kin’ shit!!! F**kin’ Jerk!!! You such a f**kin’ sonuvabitch!!!!”, Yuu mengeluarkan sumpah serapah yang ditujukannya pada Uruha yang tergeletak di atas lantai dengan sebelah tangan memegangi pipinya yang memar. Darah segar mengalir dari hidungnya. Uruha balas menatap Yuu dengan kesal.

“What the hell…”, umpatnya.

Yuu meraih kerah baju Uruha dan menariknya hingga berdiri dan berhadapan dengannya.

“Brengsek!!! Kau sudah meninggalkan kami tanpa berkata apa-apa hingga membuat kami bingung seperti orang bodoh dan sekarang kau berani menunjukkan batang hidungmu di hadapan kami??? Sonuvabitch!!!”, teriak Yuu marah besar.

Uruha mendesis kesakitan karena cengkeraman Yuu sangat kuat.

“F**kin’ let me go!!! Shit!! You’re f**kin’ hurting me!!!”, balas Uruha tak mau kalah.

“Hentikan!!! Kalian bedua HENTIKAN!!!”, jerit Hinata seraya berjuang sekuat tenaga memisahkan mereka berdua.

Usahanya setidaknya membuahkan hasil. Yuu akhirnya melepaskan cengkeramannya atas kerah Uruha. Walaupun masih mengutukinya dan menatapnya dengan mata nanar. Demikian juga dengan Uruha.

“Yuu, bersikaplah dewasa sedikit!!! Uruha sudah kembali, seharusnya kau merasa lega, bukannya mengajaknya berkelahi seperti ini!!!”, hardik Hinata. Kedua tangannya memegangi erat-erat lengan masing-masing cowok itu untuk menahan agar mereka tidak saling adu tangan lagi.

Mendadak Yuu menepis tangan Hinata dan mendelik pada Uruha.

“Aku tak peduli!!! Aku sudah muak. Lakukan saja sesukamu”, ujarnya tajam seraya bergegas pergi dari hadapan Uruha.

“Yuu..kau mau kemana???”, pekik Hinata panik.

“Entahlah, yang jelas jauh-jauh dari hadapannya”, gerutu Yuu tak jelas.

Uruha hanya mendengus dan memalingkan wajahnya.

Hinata mengalihkan tatapannya pada Uruha. Wajahnya tampak merana.

“Uruha…kumohon..”.

“Pergilah ke tempatnya. Biar aku yang menjaga Fuyuno”, ucap Uruha dengan nada dingin.

Hinata hendak membuka mulut untuk protes. Namun, diurungkannya niatnya.

Uruha butuh mendinginkan kepalanya, butuh istirahat.

Dan Yuu membutuhkan seseorang untuk meredakan amarahnya.

Hinata menundukkan wajahnya. Dia melepaskan tangan Uruha.

“Maaf. Tolong maafkan Yuu. Dia hanya terlalu mengkhawatirkan kita, mengkhawatirkanmu”, gumam Hinata memohon.

Uruha menghela napas panjang.

“Aku mengerti. Pergilah”, desah Uruha.

“Kabari aku kalau dia sudah sadar”, bisik Hinata seraya berlalu meninggalkannya.

Uruha mengangguk lemah.

Setelah Hinata benar-benar pergi, Uruha menutup pintu kamar Fuyuno perlahan. Lantas dia melangkah menuju sisi ranjang Fuyuno.

Dia menjatuhkan dirinya di atas kursi penunggu di sana.

Untuk beberapa saat dia hanya mampu menatap Fuyuno yang tergolek lemah di ranjang itu. Kemudian dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Fuyuno.

“Fuyuno-chan…kumohon sadarlah. Aku membutuhkanmu”, desis Uruha dengan nada putus asa.

Mendadak Fuyuno menggerakkan tubuhnya dan sesekali merintih pelan.

Uruha mengangkat alis kaget.

“Fuyuno?”, bisiknya.

Kening Fuyuno mengerut. Bibirnya berkali-kali merintihkan sesuatu.

“Fuyu..”

Dan Fuyuno pun membuka kedua matanya perlahan.

Hati Uruha mendadak dipenuhi oleh harapan kembali.

“Fuyuno-chan..”, desis Uruha berusaha meraih perhatian Fuyuno.

Fuyuno memicingkan matanya, berusaha beradaptasi dengan cahaya lampu yang terang.

Dia menatap sekelilingnya, berusaha mengingat semua yang telah terjadi padanya.

Hingga akhirnya tatapannya tertuju pada Uruha di sisinya. Kedua matanya membesar.

“U..ru..ha..kun???”, ucapnya lemah dan terbata. Kerongkongannya terasa kering seperti kapas.

Uruha hanya bisa terpengarah.

Fuyuno berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Dengan agak kepayahan, namun dia berhasil mendudukkan dirinya.

“Uru..ha-ku..n..a..ada apa?? Aku..ada di..di mana??”, tanya Fuyuno bingung. Seraya menatap ke sekelilingnya sekali lagi.

“Uru..Ah???”

Mendadak Fuyuno dibuat shock.

Tiba-tiba saja Uruha meraihnya dalam pelukannya. Memeluknya erat-erat seolah Fuyuno adalah satu-satunya yang mampu membuatnya bertahan untuk tidak tergelincir. Dia membenamkan wajahnya di bahu Fuyuno. Membuat gadis itu terpaksa menggenggam seprei ranjangnya erat-erat agar tidak terjungkal karena berat tubuh Uruha.

“U..ruha..kun??”, desis Fuyuno bingung.

Dan lagi-lagi Fuyuno dibuat makin bingung ketika dia merasakan sesuatu yang basah dan hangat membanjiri bahunya.

“Uruha-kun, ka..kau menangis??? Ada apa??? Apa yang terjadi padamu???”, seru Fuyuno mulai panik.

Namun, Uruha hanya diam. Tubuhnya gemetar dan Fuyuno bisa merasakannya.

Uruha mencengkeram lengan Fuyuno erat-erat dan itu membuat Fuyuno meringis kesakitan.

Namun, Fuyuno tak mengatakan apapun. Dia hanya diam dan menunggu hingga Uruha akhirnya mau mengatakan apa sebenarnya yang telah terjadi padanya hingga membuatnya sedih seperti ini.

Fuyuno memejamkan matanya. Dia mengangkat kedua tangannya dan melingkarkannya ke sekeliling punggung Uruha. Membelainya lembut, berusaha menenangkannya.

“Daijoubu desu yo. Watashi wa koko ni irundesu”, bisiknya.

——— ## ———

“Shit!!! F**kin’ hell!!! Sonuvabitch!!!”

Sumpah serapah itu terus menerus memenuhi udara malam itu di halaman belakang rumah sakit. Sesekali dia meninju dan menendangi pohon yanagi yang berdiri kokoh di belakangnya.

Setelah beberapa lamanya dia melakukan hal itu, akhirnya dia merasa sangat lelah. Dia menjatuhkan dirinya di atas tanah, di bawah pohon yanagi itu.

Lututnya ditekuk dan kedua lengannya memeluk kakinya. Dia membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya. Hatinya terkoyak akibat rasa marah, sedih, kecewa, menyesal, khawatir, putus asa.

Dia terus mengutuk dirinya sendiri dan menyalahkan dirinya sendiri sampai tak sadar bahwa di sisinya sudah hadir seseorang yang sedari tadi mengawasinya dari jauh.

“Benar-benar Yuu yang normal”, ucap gadis itu dengan nada bercanda.

Yuu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahnya.

Hinata.

“Apa maksudmu???”, gerutunya kesal.

Hinata tersenyum. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk membelai kepala cowok itu.

“Marah-marah karena ada yang membuatnya cemas. Kau memang selalu begitu, ‘kan??”, ujar Hinata.

“Cih, seperti kau nggak saja”, cibir Yuu. Hinata tertawa kecil.

“Iya, benar. Dan jangan katakan kalau kau tidak menyesal sekarang!!! Oh, iya, Shirota Yuu-san amat sangat menyesal karena telah melukai sahabatnya, Takashima Kouyou atau Uruha karena kesal pada sesuatu yang bukan kesalahannya”, seru Hinata keras-keras, sengaja membuat Yuu terdesak untuk mengakuinya.

“Apa-apan, sih???”, gerutu Yuu pura-pura marah. Namun, wajahnya bersemu merah.

Hinata menyeringai.

Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam, memandangi langit malam yang berhiaskan bulan purnama dan taburan bintang di sekelilingnya.

“Uruha hanya sedang kalut dan dia tak ingin membuat kita cemas, tanpa disadarinya dia justru membuat kita makin cemas. Tapi, itu bukan kesalahannya. Dia shock melihat keadaan Fuyuno. Bahkan jauh lebih shock daripada kita”, Hinata akhirnya angkat bicara.

Yuu diam sejenak, berusaha mencerna kata-kata Hinata.

“Aku tahu. Aku yang salah karena terlalu emosi. Seharusnya aku tak langsung main hajar padanya”, gumam Yuu. Wajahnya menunjukkan kalau dia benar-benar menyesal.

Hinata tersenyum.

“Ehem..belum terlambat untuk minta maaf, ‘kan?”, ujar Hinata.

“Hah?”, Yuu mengangkat alis.

“Lalu, Shirota Yuu-san berjanji, setelah ini dia akan meinta maaf pada Uruha atas perbuatannya tadi dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi”, pekik Hinata berpura-pura memproklamirkan isi hati Yuu lagi.

Yuu mendelik ke arahnya.

“Apa-apaan, sih???”, pekiknya kesal.

Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap.

Kemudian, entah bagaimana atau siapa yang memulai, tapi akhirnya mereka tertawa bersama.

“Bodoh!!!”, cela Yuu di antara gelak tawanya.

Yuu lantas bangkit. Membersihkan celananya dari kotoran yang menempel. Kemudian mengulurkan tangannya yang lain ke arah Hinata.

Hinata mengangkat alis.

“Ayo, ke tempat mereka. Fuyuno pasti sudah sadar sekarang. Dan aku tak mau berlama-lama mengatakannya pada Uru”, ujar Yuu seraya menyeringai.

Untuk beberapa saat Hinata hanya bisa terkesima. Kemudian dia mengangguk dan meraih tangan Yuu yang membantunya berdiri.

Yuu menengadahkan kepalanya ke langit.

“Oretachi wa..nakama darou???”, ucap Yuu dengan mata menerawang jauh.

Hinata tertegun.

Namun, kemudian dia tersenyum.

“Sou yo!!! Zutto ni..nakamatachi desu!!!”, sahut Hinata mantap.

Yuu menyeringai.

Dan suasana hati mereka pun kembali hangat.

——— ## ———

0 komentar:

 

おかえりなさい!! Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting